Article

Doa Tuhan Yesus Di Taman Getsemani

Saturday, 02 May 2020

Matius 26:36-46

Doa Tuhan Yesus di Getsemani, menjadi sebuah pola doa yang sangat baik. Karena di dalam doa-Nya, Tuhan Yesus bukan hanya sekadar datang dan berbicara dengan Allah Bapa. Namun adanya sebuah relasi yang sedemikan dekat dengan Allah Bapa. Dengan demikian menjadi jelas bagi kita, relasi dengan Tuhan jauh lebih penting dari sekadar ucapan atau permohonan doa yang kita sampaikan. Selain itu, dalam doa-Nya, Tuhan Yesus bukan sekadar meminta, namun adanya ketaatan kepada kehendak Bapa.

Kalau kita mempelajari kisah yang ditulis dalam Injil Matius tentang doa Tuhan Yesus di Getsemani ini, kisah ini sejatinya memuat sebuah pengajaran penting, betapa perlunya setiap orang yang menjadi pengikut Kristus untuk menjadikan doa sebagai gaya hidup. Artinya, doa perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam hidup kita.

Mengapa kita perlu menjadikan doa sebagai gaya hidup? Sebab, sama seperti apa yang di nasihati oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, karena hidup kita diwarnai oleh berbagai hal-hal yang tidak bisa kita duga, ada pencobaan dan godaan Iblis yang terus-menerus mendatangi kita. Ada peperangan rohani yang dapat melemahkan dan menjatuhkan kita. Itulah yang dinasihati oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya saat Ia mengadakan perjamuan perjamuan dengan mereka: ‘malam ini kamu semua akan tergoncang imannya karena Aku” (Matius 26:31). Bahkan ada nasihat khusus dari Tuhan Yesus kepada Simon Petrus: “roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Jadi untuk memperoleh kemenangan melawan godaan dan pencobaan, untuk bertahan dalam menghadapi pergumulan hidup, bahkan untuk mencari kehendak Tuhan, hanya satu hal yang perlu kita lakukan, yaitu bertekun di dalam doa.

Kisah yang ditulis dalam Injil Matius tentang doa Tuhan Yesus juga memberikan kita akan sebuah pemahaman tentang apa yang selayaknya kita lakukan saat kita menghadapi pergumulan hidup dan tindakan doa seperti apa yang selayaknya kita lakukan. Berikut ini ada sebuah bagan sederhana tentang hal umum yang biasa kita lakukan saat menghadapi pergumulan dan perbandingannya dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus.

Orang Kristen Pada Umumnya Tuhan Yesus
1. Bertanya -
2. Meminta 1. Meminta dan taat
3. Menerima dan Percaya 2. Menerima dan memuliakan Allah Bapa

Saat kita diperhadapkan dengan pergumulan, pada umumnya kita akan bertanya-tanya, apa yang salah dengan diri kita. Mengapa hal buruk menimpa kita. Pertanyaan ini juga diajukan oleh Pemazmur ketika ia melihat orang benar hidup dalam pergumulan, sementara pada sisi lain ada orang fasik hidup dalam kemakmuran (Mazmur 74:3-4).

Saat berada dalam pergumulan, kita bukan hanya bertanya kepada Tuhan. Bahkan kita cenderung untuk mempersalahkan Tuhan sebagai biang keladi, atau penyebab dari kesusahan yang kita alami. Dalam Alkitab ada seorang bernama Naomi, yang bersama suami dan kedua anak laki-lakinya mengungsi ke Moab. Kepergian mereka disebabkan adanya kelaparan melanda wilayah Israel. Di daerah Moab, Naomi bersama suami dan kedua anak laki-lakinya memulai sebuah kehidupan baru. Tetapi seperti sebuah peribahasa yang mengatakan: “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.” Naomi kehilangan orang-orang yang dikasihinya; suami dan kedua anaknya meninggal dunia. Lalu ia memutuskan diri untuk kembali ke Israel. Ketika ia sampai di Betlehem, orang-orang di kampungnya melihat keadaannya. Tidak lagi ada senyuman. Bahkan ia mengganti namanya dan meminta agar orang-orang di kampungnya tidak memanggilnya “Naomi” (nama Naomi berarti: manis dan menyenangkan), kepada orang-orang yang ada disekitarnya ia berkata: jangan lagi panggil aku Naomi (aku bukan lagi orang yang menyenangkan, sekarang panggil aku “Mara” yang berarti pahit, panggil aku si pahit, karena Tuhan telah melakukan banyak hal yang pahit kepadaku). Dengan tangan penuh aku meninggalkan negeri ini, sekarang aku pulang dengan tangan yang hampa.

Dalam kehidupan kita, bukankah kita banyak menjumpai orang-orang yang mengalami pergumulan hidup, dan berperilaku seperti Naomi, yang bertanya dan mempersalahkan Tuhan: ‘saya rajin beribadah dan melayani, saya banyak membawa jiwa datang ke gereja, bahkan saya juga rutin memberi persepuluhan. Tetapi mengapa saya diperhadapkan dengan pergumulan seperti ini? Kita lupa, bahwa kita memiliki Roh Kudus yang menyertai dan menghibur kita.

Setelah bertanya, biasanya orang akan meminta pertolongan kepada Tuhan, namun ketika masalahnya belum ada titik terang, mulai timbul pertanyaan, sama seperti yang terjadi pada Daud, berapa lama lagi Tuhan, Engkau berdiam diri dan tidak menjawab aku, berapa lama Engkau telah melupakan aku dan menyembunyikan wajah-Mu? Seruan ini muncul ketika pergumulan doa yang kita sampaikan seperti membentur tembok tebal. Seakan-akan Tuhan berdiam diri dan tidak memperdulikan kita. Akhirnya kita mulai tawar menawar dengan Tuhan, dalam doa kita berkata: ‘Tuhan kalau saya sembuh, kalau masalah yang saya hadapi ini dapat diselesaikan, saya akan rajin ke gereja, saya akan rutin berdoa, saya juga akan melayani Tuhan. Tentu iman dan doa seperti ini menunjukkan ketidakdewasaan akan kerohanian yang kita miliki. Tetapi Tuhan yang penuh kasih, dengan kesabaran-Nya, Ia mengizinkan kita bertanya dan Ia membiarkan diri-Nya dipersalahkan. Namun, yang sangat disayangkan, banyak orang Kristen, berhenti pada tahap ini, dan lebih memilih untuk meninggalkan Tuhan dibandingkan dengan bertekun di dalam doa.

Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Dalam doa-Nya, Ia bukan saja meminta, tetapi juga taat akan kehendak Bapa: “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Ku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Tuhan Yesus tentu tahu akan panggilan dan tujuan kedatangan-Nya ke dalam dunia. Tentu Ia tidak menolak akan kekendak Allah Bapa, namun permohan doanya agar diluputkan dari cawan penderitaan, disebabkan karena peristiwa penyaliban membuat Allah Bapa memalingkan wajah-Nya dan meninggalkan Dia (Matius 27:46).

Doa-Nya ditutup dengan kalimat: “… jangan seperti yang Ku kehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Inilah doa yang selayaknya kita sampaikan kepada Tuhan, yaitu doa yang lahir dari ketulusan dan ketaatan. Doa yang tunduk kepada Allah dan mengakui akan kedaulatan-Nya.

Tahap selanjutnya adalah berserah, tentu perilaku ini menunjukkan adanya tingkat kedewasaan rohani yang kita miliki. Karena kita tidak dapat memaksa Tuhan. Yang kita lakukan adalah berserah diri dan meyakini bahwa Tuhan selalu punya rencana yang indah bagi hidup kita.

Tentu kita tahu, pergumulan yang dihadapi oleh Tuhan Yesus bukan disebabkan oleh persoalan jasmani atau lahiriah, namun kepada pergumulan untuk menanggung hukuman dosa manusia. Penulis Injil Lukas menjelaskan tentang beratnya pergumulan yang dihadapi oleh Tuhan Yesus: “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluhnya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah” (Lukas 22:44). Sedemikan beratnya pergumulan tersebut, sehingga Allah Bapa mengutus malaikat-Nya untuk memberi kekuatan kepada Tuhan Yesus (Lukas 22:43).

Namun Ia rela melakukannya, karena melalui cawan penderitaan itu, Ia akan mempermuliakan Allah Bapa. Dalam Injil Yohanes 17:4 Tuhan Yesus berkata: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.” Kalimat ini berarti, melalui karya salib, Tuhan Yesus akan memuliakan Allah Bapa.

Mari kita belajar dari Tuhan Yesus, di mana panggilan hidup-Nya adalah untuk memuliakan Allah Bapa. Ketika Tuhan mengizinkan kita mengalami pergumulan ataupun penderitaan, mari kita ingat, bahwa melalui pergumulan yang kita hadapi dapat dipakai oleh Tuhan untuk membuat nama-Nya dipermuliakan.

Disusun oleh: Pdt. Herman Suratman

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?