Article

Terserah Tuhan

Monday, 15 June 2020

Belakangan ini ada sebuah kalimat yang menjadi viral di indonesia. Kalimat tersebut adalah "Indonesia? Terserah!" yang disuarakan oleh para tenaga medis sebagai respons rasa putus asa atau kefrustrasian mereka melihat jerih payahnya nampak sia sia. Kata "terserah", memang seringkali kita pakai untuk menggambarkan hal-hal yang bersifat negatif; seperti kecuekan kita. Lalu apa yang menjadi impresi kita ketika membaca judul dari artikel ini? Apakah kita masih memakai impresi yang negatif? Apakah kita membacanya dengan nuansa kecuekan dan keputusasaan atau mungkin kita jadi bertanya, apakah memang ada "terserah" secara positif?

Ada sebuah kisah di dalam Alkitab yang terlintas di pikiran saya ketika membaca kata "terserah", yaitu kisah tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego di hadapan Nebukadnezar. Kisah tersebut, mengajarkan kepada kita bagaimana mengatakan "terserah" tapi didasari dengan keyakinan kepada Tuhan.


TETAPI SEANDAINYA TIDAK

Daniel pasal 3 menceritakan tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang dipanggil untuk menghadap raja Nebukadnezar karena raja mendapat laporan bahwa tiga orang tersebut menolak untuk menyembah patung emas yang dibuatnya. Raja Nebukadnezar mengancam akan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala dan ia yakin bahwa tidak ada dewa yang dapat menyelamatkan mereka. Namun jawaban mereka terhadap ancaman tersebut adalah "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu" (Daniel 3:16-18). Ketiga orang itu menjawab dengan sebuah kalimat yang terdengar plin-plan. Pada awalnya mereka terdengar sangat yakin bahwa Allah akan melepaskan mereka, tetapi kalimat mereka selanjutnya; "tetapi seandainya tidak" terdengar seperti mereka tidak benar-benar yakin!

Namun sesungguhnya, jawaban mereka justru mengandung keyakinan yang mungkin belum kita pahami. Keyakinan mereka hanyalah kepada Tuhan dan bukan kepada apa yang akan Tuhan lakukan. Mereka yakin bahwa Tuhan akan melepaskan mereka. Tetapi, mereka tidak menjawab dengan arogan seakan-akan mereka memahami Tuhan! Jadi secara sederhana, mereka berkata seperti ini; "Kami yakin bahwa Allah mampu melepaskan kami dari semua ancamanmu, tetapi kalau Tuhan tidak melepaskan kami, itu tidak menjadi masalah untuk kami, karena kami menentang raja bukan karena kami pikir kami akan di selamatkan, tetapi kami menentang raja, karena Allah kami adalah Tuhan yang sejati, Dia memiliki pengertian yang lebih tinggi di bandingkan kami, kami tunduk kepada-Nya, dan Dia bebas untuk melakukan apapun terhadap kami, karena Dia baik."

Ini adalah kepercayaan dan pemahaman mengenai Tuhan yang sebenarnya. Mereka benar-benar bersandar penuh dan percaya kepada Tuhan tanpa syarat dan ketentuan. Terserah Tuhan untuk melakukan apa yang di kehendaki-Nya. Ia Tuhan dan saya ciptaan-Nya. Saya tidak mengerti, tetapi Dia mengerti. Terkadang, saya tidak melihat adanya kebaikan dari persoalan yang saya hadapi, tetapi Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan! (Roma 8:28). Meskipun tidak mudah bagi kita untuk benar-benar tunduk kepada-Nya.


TERSERAH TUHAN

Tokoh lain yang dapat menolong kita untuk memahami ketundukan ini adalah Ayub. Kisah Ayub mengajarkan kepada kita tentang apa yang harus kita lakukan untuk benar-benar tunduk kepada Tuhan, yaitu dengan terus berdoa. Ayub tidak mengerti kenapa semua terjadi kepadanya. Ia mengeluh, tetapi ia mengeluh kepada Tuhan. Ayub memiliki keraguan-keraguan, tetapi ia menyatakan keraguannya di hadapan Tuhan. Ayub berteriak-teriak, namun ia melakukannya di hadapan Allah. Tidak peduli seberapa banyak kemalangan yang menimpanya, Ayub terus berbicara kepada Tuhan. Walaupun pada akhirnya, Ayub tidak mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya, tetapi Ayub pada akhirnya menyadari bahwa Dialah Tuhan. Dia berkuasa, Dia bebas untuk melakukan apapun yang Dia pandang baik, dan Ayub berhenti mencoba mengontrol Tuhan dan kembali tunduk kepada-Nya.

Bagaimana dengan kita sekarang, apakah kesulitan di masa pandemi ini membuat kita akhirnya menjadi putus asa dan bingung? Beranikah kita mengatakan: "terserah" kepada Tuhan, bukan dengan nada yang putus asa, namun dengan nada penuh keyakinan kepada-Nya. Bukan hanya disebabkan akan adanya keyakinan bahwa Tuhan mampu melakukan-Nya, tetapi lebih kepada keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan. Terserah Tuhan.


Ditulis oleh: Aldi Pratama Darkasih

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?