Article

Jangan Kehilangan Semangat

Monday, 10 August 2020

Setiap kali menyaksikan pertandingan olah raga, kita bukan saja melihat atlet yang sedang bertanding, namun juga keberadaan para supporter. Dapat dikatakan kehadiran para supporter ini sedikit-banyak, memberi pengaruh bagi sebuah pertandingan. Para supporter akan berusaha memberikan dukungan dan menyemangati team unggulannya agar dapat memenangkan pertandingan.

Dalam bahasa mandarin ada istilah yang sering digunakan para supporter dalam memberikan dukungan, yaitu kata ‘Jiayou’ (??; pinyin: ji? yóu) yang secara literal berarti: ‘menambahkan minyak.’ Sebuah artikel menyebutkan, ungkapan ini bukan saja digunakan pada acara-acara olahraga atau ajang kompetisi, namun juga digunakan dalam relasi pribadi, yaitu sebagai ungkapan untuk memberi memotivasi kepada orang lain.

Kita mengingat pada masa pademi beberapa bulan lalu, banyak orang dari berbagai belahan dunia memberi dukungan bagi penduduk di kota Wuhan, agar mereka yang berada dalam kesulitan ini memiliki semangat dalam menghadapi wabah virus corona. Pada akhirnya, virus ini pun melanda negeri kita. Dampaknya begitu besar, mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan tidak lagi ada pemasukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ditengah situasi demikian, tentu akan membuat kita kehilangan semangat. Karena kita tidak tahu dengan cara apa dan bagaimana memulainya kembali.

Kitab Amsal yang tadi kita baca memberitahukan: “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” Tentu ayat firman Tuhan ini bukan kebetulan, atau adanya kesengajaan yang dicantumkan dalam kitab Amsal ini. Ribuan tahun lalu, Allah menuntun dan memberi hikmat kepada Raja Salomo untuk menuliskan bagian ini. Karena Allah dalam segala kedaulatan dan kemahakuasaan-Nya, yang memimpin sejarah dunia ini, mengetahui, bahwa hidup manusia begitu rentan terhadap berbagai macam kesulitan dan penderitaan.

Kita harus mengakui, perasaan kehilangan semangat tidak mengenal pangkat atau jabatan. Kehilangan semangat tidak dipengaruhi oleh waktu dan musim. Kehilangan semangat juga dapat berlaku kepada segala golongan; baik pria maupun wanita, orang dewasa maupun anak-anak, yang membedakannya hanya kepada kadarnya saja.

Kalau kita diberi kesempatan mendafarkan hal-hal apa saja yang menjadi penyebab seseorang kehilangan semangat hidup, maka kita akan memperoleh banyak catatan. Apalagi kalau kita pernah mengalaminya. Saudara pernah tidak mengalami kehilangan semangat?; tidak bergairah, tidak antusias, bersikap apatis, berdiam diri karena bingung dan tidak tahu mau melakukan apa.

Secara psikologis, kehilangan semangat disebabkan kelelahan secara fisik, yang kemudian mempergaruhi suasana hati kita. Hal lain yang menjadi penyebab kehilangan semangat karena adanya kegagalan yang kita alami. Harap kita tidak berhenti pada tindakan dalam membuat daftarnya saja, melainkan adanya kesadaran diri dan oleh anugerah Tuhan kita miliki jawaban terhadap persoalan tersebut

Dalam Alkitab ada seorang bernama Elia. Ia adalah seorang nabi yang memiliki prestasi yang sangat baik. Alkitab mencatat, Elia berhasil mengalahkan 450 nabi-nabi Baal. Tetapi kemenangan yang gilang-gemiliang itu, harus diakhiri dengan adanya rasa putus asa dan kehilangan semangat. Selayaknya Elia bersyukur dan memuji Tuhan, karena ia telah memperoleh kemenangan, yang terjadi justru sebaliknya, Elia kehilangan semangat hidup, tidak lagi mau melayani Tuhan dan ingin mengakhiri hidupnya (I Raja-raja 18:20-19:8).

Sesungguhnya, apa yang terjadi dengan Elia dapat juga terjadi kepada kita. Di mana kita dapat kehilangan semangat hidup. Kalau kita mau jujur pada diri sendiri, sesungguhnya kita tidak sekuat seperti yang kita duga. Hidup kita begitu rapuhnya, sehingga Tuhan perlu memberikan pesannya melalui tulisan Raja Salomo ini.

Dalam bahasa aslinya dan beberapa terjemahan Alkitab yang lain, kata ‘semangat’ yang dipakai pada bagian ini mengunakan istilah; ‘ruakh.' Dalam Perjanjian Lama istilah ‘ruakh’ memiliki banyak arti. Istilah ini dapat berarti; roh, angin, nafas, yang kesemuanya menunjuk kepada sesuatu yang tidak terlihat, namun memiliki kekuatan untuk menggerakkan sesuatu. Demikian juga istilah yang dipakai dalam kitab Amsal ini, yaitu adanya dorongan dari hati seseorang atau semangat yang membuatnya dapat mengatakan atau melakukan sesuatu.

Ketika Allah menciptakan manusia dari debu tanah, lalu memberikan nafas hidup, maka yang mengatur seluruh hidup manusia adalah roh yang ada di dalam dirinya. Seperti baterai pada alat elektronik. Baterai itulah yang menggerakan alat elektronik sehingga dapat berfungsi. Dengan demikian menjadi jelas bagi setiap kita, seseorang yang kehilangan semangat bukan disebabkan oleh keadaan tubuhnya, tetapi lebih dipengaruhi oleh kondisi rohaninya.

Bacaan dari kitab Amsal 18 ayat 14 berkata: ‘Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya’ atau dalam terjemahan lain disebut: ‘Roh seseorang dapat menopangnya dalam kesakitan.’ Alkitab memberikan banyak contoh dan pelajaran berharga tentang anak-anak Tuhan yang mengalami kesakitan, kesulitan dan penderitaan, namun mereka tidak menyerah kalah terhadap penderitaan fisik yang dialaminya. Karena yang menjadi sumber kekuatannya terletak kepada yang tidak kelihatan, yaitu kehidupan rohaninya. Itulah sebabnya, penulis kitab Amsal ini memberikan dua macam perbandingan. Semangat yang memberi kekuatan dan mampu menangggung segala kesulitan dibandingkan dengan semangat yang patah dan sulit untuk dipulihkan.

Dalam tulisannya, Raja Salomo ingin memberitahukan kepada setiap kita, kerohanian dan semangat hidup memberi pengaruh yang besar bagi kesehatan fisik. Bahkan semangat dan kehidupan rohani yang baik akan membuat kita mampu mengatasi persoalan hidup, termasuk diantaranya sakit-penyakit.

Dibagian awal tadi kita sudah membahas tentang kehilangan semangat yang dapat terjadi kepada siapa saja. Kita juga dapat mendaftarkan hal-hal yang menjadi penyebabnya. Kini kita tiba kepada hal yang esensi, yaitu bagaimana memulihkan kembali semangat yang patah dan tetap memiliki semangat hidup. Maka satu-satunya cara adalah dengan menerima undangan Tuhan Yesus dan mau belajar kepada-Nya. Tuhan Yesus berkata: ‘Marilah semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.' Setelah itu, kita diminta untuk belajar kepada Tuhan Yesus (Matius 11:28-30). Sedikitnya ada dua hal yang dapat kita pelajari dari kehidupan Tuhan Yesus. Sehingga kita dapat meneladani-Nya. Mari kita membaca firman Tuhan dalam Injil Markus 1:35-39:

Yesus mengajar di kota-kota lain
1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: "Semua orang mencari Engkau." 1:38 Jawab-Nya: "Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang." 1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Apakah yang membuat Tuhan Yesus tidak kehilangan semangat?:

1. Karena Tuhan Yesus menyediakan diri untuk berdoa

Kisah ini diawali dengan pelayanan Tuhan Yesus yang begitu banyaknya, dari pagi sampai malam hari. Secara fisik tentu kegiatan ini sangat melelahkan. Karena banyak orang yang membutuhkan diri-Nya dan meminta pertolongan. Tetapi sebuah pelajaran penting dan berharga yang perlu kita teladani dari Tuhan Yesus adalah, ditengah kesibukannya, ditengah padat dan banyak pekerjaan yang dilakukan-Nya, bahkan dalam kelelahan fisik, Tuhan Yesus menyediakan diri untuk berdoa dan bersekutu dengan Allah Bapa. Itulah yang membuat Tuhan Yesus tidak kehilangan semangat di dalam menjalani hidup dan pelayanan-Nya.

Disadari atau tidak, rutinitas dan kesibukan membuat kita mengalami kelelahan, baik secara fisik maupun mental. Bahkan seringkali kita meminta, kalau boleh satu minggu itu bukan 7 hari, tetapi 8 hari, supaya hari kedelapan kita dapat beristirahat. Kita merasa kekurangan waktu, bahkan seringkali tidak punya waktu untuk keluarga dan orang-orang yang kita kasihi. Ketika keadaan ini terjadi pada diri kita, sesungguhnya, cepat atau lambat, kita sedang dan akan segera kehilangan semangat. Ibarat baterai pada handphone yang mulai lowbatt, sebagus apapun handphone tersebut, kalau kekurangan daya, ia tidak akan berfungsi. Saat keadaan seperti ini, yang kita lakukan adalah, secepatnya mencari sumber listrik untuk mengisi kembali baterai kita.

Bukankah hidup kita begitu lemah dan rapuh? Bahkan begitu mudah kehilangan semangat. Maka obat yang paling ampuh untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menyediakan diri untuk berdekat kepada Tuhan. Kedekatan dengan Tuhan itu memberi pengaruh yang besar bagi kesehatan fisik dan rohani kita. Seperti janji Tuhan dalam Yesaya 40:29 “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”

Pelajaran kedua yang kita dapat teladani dari Tuhan Yesus agar kita tidak kehilangan semangat adalah:

2. Memiliki hati yang mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang

Firman Tuhan yang dikisahkan oleh penulis Injil Markus menjelaskan, murid-murid mencari Tuhan Yesus dan memberitahukan bahwa banyak orang mencari-Nya. Apakah reaksi Tuhan Yesus terhadap perkataan murid-murid-Nya?. Tidakkah seharusnya Tuhan Yesus berkata kepada mereka: ‘kita sangat lelah, karena kita sudah memberi diri bagi banyak orang.’ Tuhan Yesus tidak mengatakan kalimat seperti itu. Ketika murid-murid memberitahukan banyak orang yang mencari-Nya, maka Tuhan Yesus mengajak dan menyemangati murid-murid-Nya dan berkata: ‘Mari kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil (Markus 1:38).

Tuhan Yesus tentu tidak menafikan (menyangkal) adanya kelelahan yang akan dialami para murid dan juga kita, pada saat melayani pekerjaan Tuhan. Tetapi yang diperlihatkan oleh firman Tuhan yaitu adanya sebuah teladan yang baik yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, di mana Ia tidak kehilangan semangat.

Tuhan Yesus tidak kehilangan semangat dalam menjalani hidup dan pelayanannya, karena Ia memiliki hati yang mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang. Ia tidak kehilangan semangat, karena ada nilai berharga dari apa yang dikerjakan-Nya. Kalau kita mengerjakan sesuatu dan dalam pekerjaan tersebut ada nilai berharga yang akan kita peroleh, sejatinya hal itu tidak akan membuat kita menjadi kendor, apalagi kehilangan semangat dalam mengerjakannya. Mengapa banyak dari kita para orangtua tidak patah semangat dalam memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya? Jawabannya adalah, karena ada nilai berharga di dalamnya.

Demikian juga dalam pekerjaan pemberitaan Injil. Apa yang Tuhan Yesus dan yang juga kita lakukan, mengandung sebuah nilai berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang. Pemberitaan Injil adalah sebuah tugas yang bernilai harganya, yang oleh Rasul Paulus dianggap sebagai sebuah hutang yang harus dibayar (Roma 1:14). Karena pemberitaan Injil akan mengubah hidup seseorang, dari orang yang terhilang, tidak tahu arah dan tujuan hidupnya, karena berita Injil, mereka memperoleh hidup yang penuh pengharapan.

Ketika api pelayanan kita mulai padam, atau semangat pelayanan kita mulai kendor, ingatlah akan jiwa-jiwa berharga yang perlu kita selamatkan. Teladanilah akan Tuhan Yesus, yang tidak kehilangan semangat dalam mengasihi jiwa-jiwa yang terhilang.


Ditulis oleh: Pdt. Herman Suratman

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?