Article

Unlocking Joy in Lockdown

Monday, 21 September 2020

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau kondisi dunia akan seperti ini. Jika diibaratkan dengan judul sebuah film, maka film Warkop DKI; Maju Kena Mundur Kena adalah judul yang tepat untuk menjadi tema tahun 2020 ini. Dilema yang sama-sama dirasakan oleh setiap kalangan, muncul ketika kita harus memilih antara dua hal yang cukup vital bagi keadaan kita dan keluarga kita. Antara tetap bepergian untuk bekerja, namun harus berperang melawan resiko terpapar virus, atau tetap dirumah, namun mengalami begitu banyak keterbatasan dalam melakukan pekerjaan, dan mungkin juga beberapa dari saudara kita, mengalami PHK karena kondisi ini. Maju kena mundur kena.

Tidak bisa dipungkiri, saya pun merengek "apakah ada hal yang akan membuat tahun ini menjadi lebih buruk lagi?" Menakutkan sekali, jawaban dari rengekan tersebut adalah; bisa! Keadaan bisa menjadi semakin buruk! Kalau begitu, adakah ruang bagi kita, ditengah-tengah dunia yang terlihat semakin buruk ini, untuk memiliki sukacita? Saya yakin, dalam perjalanan hidup kita, seringkali kita mengalami kondisi di mana sepertinya dunia di sekitar kita runtuh berantakan. Mungkin kehilangan orang-orang terdekat atau mungkin kesalahan fatal yang kita lakukan. Bagaimana saya bisa bersukacita kalau seluruh dunia terlihat runtuh? Tidak mungkin bagi saya untuk bersukacita.

Dalam sebuah buku karangan J. I. Packer dengan judul Knowing God, Packer menjelaskan bagaimana kita sebagai orang Kristen dapat merespon keadaan yang menekan kita. Dunia mengajarkan, ketika Anda mengalami stress, berhentilah berpikir dan carilah ketenangan melalui beberapa metode, seperti; meditasi ataupun berusaha mengalihkan pikiran dari stress yang anda alami. Jika anda mengalami tekanan, maka pergilah ke tempat-tempat hiburan lalu menghabiskan waktu terhadap hal yang menjadi pelarian sementara saja. Akan tetapi, sejatinya, semua hal yang dianjurkan oleh dunia tidak menyelesaikan tekanan atau stress yang kita alami -- hanya menundanya saja.

Namun berbeda dengan Rasul Paulus. Dalam Roma 8, ia malah mengajak kita untuk berpikir lebih dalam ketika kita berada dalam tekanan atau dalam keadaan yang merampas sukacita kita. Paulus menantang kita untuk memikirkan Injil itu terus menerus dan memikirkannya secara mendalam! Keadaan buruk dapat membuat kita menjadi hilang harapan dan tawar hati, tapi mari pikirkan lebih dalam, apakah kita sudah tidak memiliki harapan? Sesungguhnya, harapan kita hanya ada di dalam Kristus yang mati dan bangkit! Harta benda pada saat ini mungkin hilang atau berkurang, tapi mari pikirkan lebih dalam! Harta paling berharga yang kita miliki dan tidak akan pernah hilang ada di dalam relasi kita dengan Kristus! Think - think - think!

Dilanjutkan dalam Roma 8:31 Rasul Paulus memberikan pertanyaan retorik atau memberikan pertanyaan yang berperan sebagai pemantik untuk pembacanya: "Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah ada di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" Tentu, kita dengan sangat cepat akan menjawab tidak ada! Tapi bukan itu maksud Paulus melontarkan pertanyaan tersebut. Paulus ingin agar kita menjawab keraguan hati kita sendiri! Kita perlu untuk terus mengingatkan diri akan adanya keyakinan dan sukacita kita yang mulai padam! Di akhir pasal 8, Paulus yang sudah memiliki jawaban atas semua pertanyaan di pasal 8, kembali memberikan kita kesempatan untuk merespon "dan saya juga! Haleluyah!"

Pengajaran Paulus ini, bahkan sudah dilakukan oleh salah seorang nabi dalam Perjanjian Lama. Seorang nabi yang bernama Habakuk, menaikkan sebuah doa ratapan, namun mengakhiri doa nya dengan keyakinan dan penuh sukacita. Bukan bersukacita karena dunia yang kacau, tetapi bersukacita akan Tuhan yang dipercayainya: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Habakuk berandai-andai, sekalipun segala hal yang ia lakukan tidak berhasil, namun persoalan ini tidak akan merampas sesuatu yang terpenting, yaitu sukacita di dalam Kristus. Masalah boleh ada, tetapi tidak akan menghanguskannya.

Sama seperti Paulus, Habakuk mengajak kita untuk berpikir lebih dalam lagi. "Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." Think! Habakuk menyadari, Tuhan telah menopangnya, dan akan terus menopangnya. Demikian juga dengan kita, Tuhan telah menopang kita, dan akan terus menopang kita. Karena itu, bersukacitalah! Sebab Allah kita adalah Allah yang baik dan setia!

"Sebab aku yakin, bahwa baik maut , maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:38-39).

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?