Menjadi Seorang Yang Dapat Dipercayai 作可信的人

G.I. Philip Huang – 1 Korintus 哥林多前书 4:1-5

Ringkasan Khotbah

Di Keraton Surakarta ada sejarah tentang abdi dalem. Abdi dalem adalah orang-orang yang mengabdi kepada kerajaan bukan karena uang, tetapi karena panggilan hidup. Ada seorang abdi dalem yang tugasnya hanya menjaga satu pintu. Gajinya sangat kecil, tetapi ia tetap mau mengabdi seumur hidupnya. Orang yang dipercayai untuk menjaga satu pintu dengan setia adalah orang yang dapat dipercaya juga untuk hal yang lebih besar.

Beberapa minggu terakhir kita membahas surat 1 Korintus. Namun, pasal 4 merupakan puncak dari bagian surat Paulus kepada jemaat Korintus. Seorang pelayan Tuhan harus sadar bahwa dirinya adalah seorang hamba. Paulus tidak tergoda untuk memegahkan dirinya, walaupun banyak hal yang sudah dilakukan yang bisa dijadikan alasan untuk Paulus memegahkan dirinya.

  1. Identitas kita harus jelas: hamba dan pengelola.
    Paulus adalah hamba Yesus Kristus. Ia sadar akan identitasnya sebagai hamba dan pengelola. Hamba berarti pelayan, seorang bawahan, bukan tokoh utama. Pengelola berasal dari kata oikonomos, yaitu manajer rumah tangga yang dipercayai. Kita adalah pengelola, bukan pemilik. Karena itu, kita harus melaksanakan tugas dengan baik, sebab pada waktunya nanti kita harus memberi pertanggungjawaban kepada Sang Pemilik. John Calvin berkata, “Pelayan Tuhan hanya melakukan apa yang dipercayakan kepadanya.
    Dalam Lukas 17:7–10, khususnya ayat 10, kita melihat hati seorang hamba, hati seorang pelayan. Bahwa setiap kita hanya melakukan apa yang diminta dan kita bukanlah siapa-siapa. Di dalam Kerajaan Allah, kita harus selalu ingat posisi kita sebagai pelayan Tuhan.
  2. Tuntutan bagi seorang pelayan adalah: setia dan dapat dipercaya.
    Setia dan dapat dipercaya berbicara tentang karakter. Kata “setia” dan “iman” memiliki akar kata yang sama dalam bahasa aslinya. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Inilah tuntutan yang diberikan kepada pelayan Tuhan. Sehebat apa pun seorang pelayan, kalau ia tidak setia, maka semuanya tidak ada artinya. Ia tidak dapat dipercaya. Kesetiaan itulah yang Tuhan lihat dalam hidup kita. Setia dalam perkataan dan setia dalam perbuatan.
    Herman Bavinck berkata, “Faithfulness is the crown of the Christian life.
  3. Lalu, ujian bagi seorang pelayan adalah ini: apakah kita mencari pujian Allah atau pujian manusia?
    Paulus menyatakan bahwa hanya Tuhan yang sempurna, dan Tuhanlah yang akan mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi. Karena itu, biarlah penilaian dan penghakiman itu datang dari Tuhan. Penilaian manusia sangat terbatas, karena manusia hanya melihat yang lahiriah. Galatia 1:10 mengingatkan bahwa kesukaan Allah jauh lebih baik daripada kesukaan manusia. 
    R.C. Sproul berkata, “Tuhan tidak terkesan dengan resume kita, tetapi dengan kesetiaan kita.” Bagi Tuhan, yang jauh lebih penting adalah kesetiaan kita. Orang yang dapat dipercaya dan setia, itulah yang dicari Tuhan dari hati kita.

DISKUSIKAN:

  1. Dalam hidup dan pelayanan kita, hal apa paling sering membuat kita lupa bahwa kita hanyalah hamba dan pengelola, bukan pemilik?
  2. Menurut saudara, seperti apa wujud kesetiaan kepada Tuhan dalam hal-hal kecil, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan?

REFLEKSIKAN:

Selama ini, apakah saya lebih rindu dinilai setia oleh Tuhan, atau lebih sibuk mencari pengakuan dan pujian dari manusia?

Kiranya Tuhan memberkati Saudara

 

Tonton Video Kami yang Lain