Hidup Sehari-hari dan Hidup Bergereja 日常生活与教会生活
G.I. Philip Huang – 1 Korintus 哥林多前书 6:1-11
Ringkasan Khotbah
Di Tiongkok ada sebuah kisah tentang “Lorong 6 Kaki” (lorong/jalan ini masih ada sampai saat ini), yang mengajarkan bahwa mengalah bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan untuk tidak perlu selalu menang. Bagaimana kita menyelesaikan konflik, itulah yang lebih penting. Sebagai pengikut Kristus, kita diajarkan harus menjadi orang yang seperti apa dan pengaruh yang kita bawa keluar haruslah pengaruh yang baik.
- Ruang publik adalah panggung kesaksian (1 Korintus 6:1-6).
Paulus menegur jemaat Korintus karena konflik di antara mereka dibawa ke pengadilan orang-orang yang tidak percaya. Paulus menunjukkan bahwa ketika orang percaya saling menggugat, menyerang, dan menyakiti di depan orang yang tidak mengenal Tuhan, mereka sedang mempermalukan Injil. Kehidupan sehari-hari, termasuk cara kita menangani konflik, hak, uang, dan relasi, adalah tempat Injil dibuktikan atau justru disangkal. Cara orang percaya menjalani hidup sehari-hari di ruang publik menunjukkan apakah mereka sungguh percaya kepada Injil atau tidak. Karena itu, kehidupan pribadi dan kehidupan bergereja tidak bisa dipisahkan. Konflik bukan sekedar masalah hukum atau bisnis, konflik adalah kesaksian hidup tentang apakah Injil benar-benar berkuasa dalam kehidupan kita. - Identitas Eskatologis yang dilupakan (1 Korintus 6:2-3).
Paulus menegur jemaat di Korintus karena mereka lupa akan identitas mereka. Mereka adalah orang yang karena Kristus nantinya akan menghakimi dunia dan malaikat, tetapi mereka tidak sanggup menyelesaikan konflik dengan cara yang benar sesuai identitas mereka. Herman Ridderbos mengatakan “Status eskatologis orang percaya di dalam Kristus harus selalu mendahului dan menjadi dasar perintah etis. Kamu tidak diperintah: “Jadilah apa yang belum kamu capai.” Kamu diperintah: “Jadilah apa yang sudah kamu miliki di dalam Kristus.” Orang percaya dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas itu, bukan membiarkan dunia, status, harta, atau pengakuan luar menentukan nilai dirinya. Di dalam Kristus, kita adalah orang kudus. Kita akan bersama Kristus mengadili dunia ini. Karena itu, janganlah sampai kita menjadi orang yang amnesia identitas. Setiap hati kita menjadi orang kudus, sebuah identitas yang sudah diberikan bukan karena pencapaian kita. - Rela menanggung kerugian demi Injil (1 Korintus 6:7-11).
Paulus menantang jemaat untuk lebih rela dirugikan (perselisihan mereka bukan kriminal melainkan perselisihan sipil) daripada menang dengan cara yang merusak kesaksian. Dasarnya adalah Injil itu sendiri. Kristus telah menanggung ketidakadilan yang tidak layak Ia terima, supaya kita memperoleh kebenaran yang tidak layak kita terima.
D. A. Carson mengatakan “Kesediaan untuk menyerap ketidakadilan daripada membalas bukanlah kelemahan – itu adalah apologetika paling kuat bagi Injil, karena itu menunjukkan bahwa keamanan orang percaya tidak bergantung pada memenangkan sengketa duniawi, tetapi pada memiliki warisan yang tidak dapat dirampas.” Karena itu, orang percaya juga dipanggil untuk rela berkorban, rela mengalah, dan rela menanggung rugi demi nama Tuhan dan demi kesaksian gereja.
Hidup sehari-hari adalah kesaksian bagi dunia. Ketika menghadapi konflik, orang percaya dipanggil untuk membereskannya dengan kasih, dengan kesadaran akan identitasnya di dalam Kristus, dan dengan kerelaan berkorban demi Injil. Dengan demikian, komunitas iman dibentuk bukan hanya oleh ajaran yang benar, tetapi juga oleh kehidupan yang memuliakan Tuhan.
DISKUSIKAN:
- Mengapa cara orang percaya menyelesaikan konflik di ruang publik dapat memperkuat atau justru merusak kesaksian gereja?
- Menurut Saudara, dalam hal apa orang percaya zaman sekarang paling mudah melupakan identitasnya di dalam Kristus?
- Mengapa rela menanggung kerugian demi Injil sering terasa begitu sulit, dan bagaimana Gereja dapat saling menolong untuk hidup dengan sikap seperti itu?
REFLEKSIKAN:
- Ketika saya menghadapi konflik, apakah respons saya lebih menunjukkan kasih Kristus atau justru mempermalukan kesaksian Injil?
- Adakah hak, keinginan, atau kepentingan pribadi yang selama ini saya pertahankan mati-matian, padahal mungkin Tuhan sedang memanggil saya untuk rela mengalah demi Injil?
Kiranya Tuhan memberkati Saudara