Bebas Bertanggung Jawab 负责任的自由

Pdt. William Ho – 1 Korintus 哥林多前书 8:1-13

Ringkasan Khotbah

Di hadapan Tuhan, kita perlu rendah hati untuk mengakui bahwa kebebasan yang kita miliki bukanlah kebebasan tanpa batas. Di dalam kebebasan, tetap ada batasan dan tanggung jawab. Manusia pada dasarnya ingin bebas. Banyak orang berpikir, “kalau tidak bebas, lebih baik mati.” Manusia ingin merdeka untuk berpikir dan bertindak demi dirinya sendiri. Namun, kemajuan dan kebebasan tanpa batas sering kali justru membuat manusia menjadi sombong, meninggalkan Tuhan, bebas berbuat dosa, dan memakai apa yang dimilikinya semaunya sendiri. Karena itu, kita perlu membedakan antara bebas di dalam Tuhan dan bebas di luar Tuhan. Kebebasan di dalam Tuhan membawa kepada berkat, sedangkan kebebasan di luar Tuhan membawa kepada kehancuran.

Dalam 1 Korintus 8:2–12, Paulus mengingatkan bahwa pengetahuan dapat membuat seseorang sombong. Orang bisa merasa dirinya tahu, merasa dirinya benar, tetapi sesungguhnya belum memahami dengan benar seperti yang seharusnya. Pengetahuan tidak boleh membuat kita meremehkan orang lain. Alkitab mengingatkan kita meskipun kita punya pengetahuan dan kebijaksanaan, orang lain belum tentu punya resepsi yang baik dan sama. Karena itu, kebebasan yang kita miliki tidak boleh menjadi batu sandungan bagi saudara yang lebih lemah.

Paulus menegaskan bahwa persoalannya bukan sekadar soal boleh atau tidak boleh, melainkan bagaimana kebebasan itu dipakai. Jika kebebasan dipakai tanpa kasih, maka kebebasan itu bisa melukai hati nurani orang lain. Bahkan, ketika kita melukai saudara yang lemah, kita sesungguhnya berdosa terhadap Kristus. Lalu, bagaimana kita harus menyikapi kebebasan?

  1. Pikirkan Tuhan terlebih dahulu. 
    Dalam memakai kebebasan, Tuhan harus tetap menjadi yang terutama. Jangan sampai kita menggantikan peran Tuhan dengan hal lain. Misalnya, kita lebih cepat mencari nasihat dari manusia atau teknologi, tetapi tidak sungguh mencari hikmat dan kehendak Tuhan. Iman seharusnya membuat kita melangkah lebih jauh bersama Tuhan, sedangkan kebebasan tanpa batas justru dapat menyeret kita terlalu jauh dari Tuhan.
  2. Mengasihi sesama seperti diri sendiri.
    Ketika kita menempatkan kepentingan Tuhan di atas segalanya, kita akan belajar melihat sesama dengan benar. Kebebasan yang kita miliki harus dipakai untuk membangun, bukan untuk melukai. Dalam pelayanan gereja pun demikian. Pelayanan bukan tempat untuk mencari keuntungan diri, melainkan kesempatan untuk mengasihi dengan kasih yang mula-mula. Tantangan yang besar dalam kehidupan, termasuk di gereja, adalah humanisme dan ego manusia, ketika orang mulai menghitung-hitung pelayanan berdasarkan untung rugi bagi dirinya sendiri.
  3. Mengasihi diri sendiri seperti yang Tuhan kehendaki.
    Mengasihi diri sendiri bukan berarti menuruti semua keinginan diri, tetapi belajar hidup dalam kebebasan yang sehat dan memberkati. Paulus berkata bahwa jika makanan menjadi batu sandungan bagi saudaranya, ia tidak akan memakannya lagi. Ini menunjukkan bahwa kepentingan pribadi tidak boleh lebih besar daripada kepentingan Tuhan. Ketika hati kita sungguh mencari kehendak Tuhan, maka keinginan kita pun akan dibentuk untuk selaras dengan kehendak-Nya.

Akhirnya, kebebasan sejati hanya ditemukan ketika seluruh hidup dan keinginan kita diserahkan kepada Tuhan, di situlah kita mengalami kebebasan yang sejati. Tuhanlah yang menolong dan memegang tangan kita terus-menerus.

DISKUSIKAN:

  1. Menurut Saudara, apa bedanya kebebasan di dalam Tuhan dengan kebebasan di luar Tuhan?
  2. Dalam kehidupan bergereja, contoh seperti apa yang menunjukkan bahwa kebebasan seseorang bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain?

REFLEKSIKAN:

Jika Tuhan memanggil saya untuk membatasi kebebasan saya demi kebaikan orang lain, apakah saya rela melakukannya?

Kiranya Tuhan memberkati Saudara

 

Tonton Video Kami yang Lain