Kasih adalah Kehidupan Orang Percaya 爱是信徒的生命

Pdt. Mikha Halim – 1 Korintus 哥林多前书 13:1-13

Ringkasan Khotbah

Dunia hari ini sangat mementingkan bakat, karunia, kemampuan, dan prestasi. Hal ini terlihat, misalnya, ketika seseorang melamar pekerjaan dan berusaha menampilkan semua kemampuan, hobi, dan bakatnya di dalam CV demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Namun, di tengah dunia yang sangat menekankan bakat dan kompetensi, manusia justru semakin banyak mengalami kesepian, depresi, dan keretakan relasi. Mengapa? Karena dunia sering lebih mementingkan kompetensi daripada kompatibilitas. Orang lebih sering dinilai dari apa yang bisa ia lakukan, bukan dari bagaimana ia hidup dan berelasi dengan sesama.

Dari 1 Korintus 13:1–13, kita melihat bahwa kasih adalah esensi kehidupan orang percaya. Karunia tanpa kasih menjadi tidak bernilai, tidak berguna, dan tidak berfaedah. Paulus menunjukkan bahwa sehebat apa pun karunia seseorang, jika tidak disertai kasih, semuanya menjadi kosong.

Kasih menjadi sangat penting karena kasih mewarnai karunia dengan karakter Kristus. Tanpa karakter Kristus, seseorang bisa memakai karunia sebagai pembenaran atas sikap dan tindakan yang salah. Karena itu, kehancuran gereja bukan terutama terjadi karena ketiadaan karunia, melainkan karena ketiadaan kasih. Gereja bisa memiliki banyak karunia, tetapi tetap hancur jika tidak memiliki kasih.

Manusia bisa merasakan karunia seseorang, tetapi belum tentu merasakan kasihnya. Karena itu, orang percaya tidak boleh hanya terjebak dalam hal-hal teknis pelayanan. Karunia seharusnya menjadi jalan untuk menyatakan kasih, bukan untuk meninggikan diri.

Selain itu, kasih menjadikan karunia sebagai sarana persekutuan dengan Kristus. Karunia bukan hanya diwarnai oleh karakter Kristus, tetapi juga seharusnya membawa orang semakin mengenal dan mengasihi Kristus. Karunia memang penting, tetapi bukan segalanya. Ketika Kristus datang kembali, iman dan pengharapan akan digenapi, tetapi kasih tetap ada karena dasar kehidupan dalam Kerajaan Allah adalah kasih.

Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah kita berdampak melalui karunia, tetapi apakah melalui karunia itu kita sungguh memiliki persekutuan dengan Tuhan. Ketika lampu panggung dimatikan dan semua performa dihentikan, apakah persekutuan dengan Tuhan tetap menyala dan menghangatkan jiwa kita? Jika seseorang hanya berdampak melalui karunia, maka pada akhirnya hal itu tidak menjadi yang paling utama. Tetapi jika seseorang berdampak melalui kasih, maka persekutuannya dengan Tuhan memiliki nilai yang kekal. Karena itu, kasih adalah hal yang sangat esensial bagi kehidupan orang percaya.

DISKUSIKAN:

  1. Mengapa karunia, kemampuan, dan prestasi yang hebat tetap bisa menjadi tidak bernilai jika tidak disertai kasih?
  2. Dalam kehidupan bergereja, bagaimana kita bisa membedakan pelayanan yang hanya menonjolkan karunia dengan pelayanan yang sungguh-sungguh menyatakan kasih Kristus?
  3. Mengapa gereja bisa tetap memiliki banyak karunia, tetapi mengalami keretakan relasi jika kasih tidak menjadi dasar kehidupan bersama?

REFLEKSIKAN:

  1. Ketika saya melayani atau memakai karunia yang Tuhan berikan, apakah orang lain lebih merasakan kemampuan saya atau kasih Kristus melalui hidup saya?
  2. Jika semua “panggung pelayanan” dan pengakuan manusia dihentikan, apakah persekutuan saya dengan Tuhan masih tetap menyala dan menghangatkan jiwa saya?

Kiranya Tuhan memberkati Saudara

Tonton Video Kami yang Lain