Perkataan yang Membangun é€ ĺ°±çš„č¨€čŻ
Pdt. Timotius Fu– 1 Korintus 哥林多前书 14:1-25
Ringkasan Khotbah
Allah memberikan karunia rohani, talenta, dan kemampuan yang berbeda-beda kepada setiap orang percaya dengan satu tujuan utama, yaitu untuk membangun jemaat. “Membangun” berarti memberi manfaat, menguatkan iman, dan menolong orang percaya bertumbuh bersama. Dalam 1 Korintus 14:1–25, kata “membangun” atau “dibangun” muncul beberapa kali, menunjukkan bahwa karunia rohani tidak boleh dipakai untuk kepentingan diri sendiri.
Masalah jemaat Korintus adalah penyalahgunaan karunia bahasa roh dalam pertemuan ibadah. Sebagian jemaat memakainya untuk menyombongkan diri dan membuktikan diri lebih rohani daripada yang lain. Akibatnya, karunia itu tidak memuliakan Allah, tidak membawa berkat bagi sesama, bahkan menimbulkan kekacauan dan perpecahan karena orang lain tidak mengerti apa yang diucapkan.
Karena itu, Rasul Paulus memberikan pedoman tentang penggunaan bahasa roh dalam kebaktian.
- Bahasa roh harus diterjemahkan. Bahasa roh yang tidak diterjemahkan tidak berguna bagi jemaat. Rasul Paulus mengatakan bahwa perkataan itu seperti diucapkan kepada angin. Orang lain tidak memahami maksudnya, sehingga tidak ada pertumbuhan iman yang terjadi. Bahkan, orang awam atau orang yang belum percaya dapat menganggap jemaat seperti orang gila jika semua berbicara tanpa aturan.
- Bahasa roh harus dilakukan dengan tertib. Jika ada yang dapat menerjemahkan, bahasa roh harus disampaikan secara tertib, bergiliran, dan paling banyak tiga orang. Namun, jika tidak ada yang menerjemahkan, orang itu harus berdiam diri dalam pertemuan jemaat. Roh Kudus bekerja selaras dengan Firman Tuhan dan tidak pernah bertentangan dengan keteraturan yang Tuhan kehendaki.
- Perkataan yang membangun lebih utama daripada perkataan yang tidak dimengerti. Rasul Paulus sendiri berkata bahwa ia berbahasa roh lebih daripada jemaat Korintus. Namun, dalam pertemuan jemaat, ia lebih memilih mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain daripada ribuan kata yang tidak dimengerti. Lima kata itu dipahami oleh para penafsir sebagai inti kabar Injil yang diringkas dalam lambang ikan (dalam bahasa Yunani Ichthys), yaitu: “Yesus, Anak Allah, Juruselamat Dunia.”
Karena itu, alasan gereja tidak mempraktikkan bahasa roh secara massal adalah karena bahasa roh merupakan pemberian Roh Kudus. Karunia ini tidak bisa dipaksakan, dipelajari, atau diatur manusia. Jika Roh Kudus memberikan karunia bahasa roh dalam ibadah, Roh Kudus juga akan memberikan penerjemah dan memimpin jemaat untuk melakukannya secara tertib.
Namun, pesan utama bagian ini bukan hanya tentang bahasa roh. Jemaat diajak untuk menggunakan perkataan yang membangun. Ada dua bentuk perkataan yang membangun. Pertama, memberitakan Injil. Orang percaya dipanggil untuk terus menceritakan tentang Yesus Kristus, baik melalui pemberitaan di mimbar maupun melalui kehidupan pribadi.
Kedua, memberi dorongan dan pengharapan. Mulut kita seharusnya dipakai untuk menguatkan, menghibur, dan memberi pengharapan kepada sesama, terutama di tengah pergumulan hidup, sakit, masalah ekonomi, atau kedukaan. Karena itu, kita perlu memiliki hati yang peka terhadap pergumulan orang lain, bukan cepat menghakimi atau menyalahkan.
Kita harus mengelola karunia rohani dan talenta dengan benar. Ada dua sikap ekstrem yang perlu dihindari. Pertama, jangan malas melayani. Jangan bersembunyi di balik alasan “saya hanya jemaat biasa.” Setiap orang yang sudah diselamatkan memiliki Roh Kudus dan pasti diberi karunia rohani untuk dikembangkan bagi kemajuan gereja.
Kedua, jangan menyalahgunakan karunia. Talenta dan karunia rohani bukan diberikan untuk menyombongkan diri atau merasa lebih rohani daripada orang lain. Semua karunia diberikan untuk memuliakan Allah dan membangun jemaat.
Dengan demikian, perkataan dan karunia yang benar adalah yang membawa orang semakin mengenal Kristus, menguatkan iman jemaat, menjaga ketertiban gereja, dan memuliakan Allah.
DISKUSIKAN:
- Mengapa karunia rohani, talenta, atau kemampuan yang baik tetap bisa merusak jemaat jika dipakai untuk menyombongkan diri?
- Dalam kehidupan bergereja, seperti apa contoh perkataan yang sungguh membangun iman orang lain, bukan hanya sekadar terdengar baik?
- Mengapa ketertiban, kejelasan, dan sikap saling memperhatikan penting dalam penggunaan karunia rohani di tengah jemaat?
REFLEKSIKAN:
- Selama ini, apakah perkataan saya lebih sering menguatkan dan memberi pengharapan, atau justru melukai, melemahkan, dan membuat orang lain tersandung?
- Apakah saya sudah memakai karunia dan talenta yang Tuhan berikan untuk memuliakan Allah dan membangun jemaat, atau masih untuk mencari pengakuan diri?
Kiranya Tuhan memberkati Saudara