Penderitaan dalam Iman Kristen 基督徒信心中的苦难

G.I. Philip Huang – Roma 罗马书 8:18, 22–23, 28

Ringkasan Khotbah

Ketika manusia mengalami penderitaan, pertanyaan yang sering muncul adalah, “Mengapa saya?” atau “Kalau Tuhan baik, mengapa Tuhan membiarkan saya menderita?” Dalam iman Kristen, ketika manusia bertanya “mengapa”, Injil menjelaskan “siapa” yang berjalan bersama kita.

Kita perlu mengubah cara pandang. Kita mungkin hanya melihat satu halaman, tetapi Allah melihat seluruh buku. Kita melihat hanya hari ini, tetapi Allah melihat kepada kekekalan. Karena itu, jangan cepat mengambil kesimpulan, karena ceritanya belum berakhir. Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Alkitab tidak menyangkal realitas penderitaan
Alkitab tidak pernah menyangkal keberadaan penderitaan. Banyak tokoh dalam Alkitab mengalami penderitaan. Ayub kehilangan anak-anaknya. Yusuf dijual oleh saudarasaudaranya. Daud dikejar Saul. Yeremia menangis. Habakuk bertanya kepada Tuhan. Bahkan Yesus sendiri menangis. Karena itu, iman Kristen tidak mengatakan, “Jangan menangis.” Iman Kristen mengatakan, “Menangislah, tetapi jangan menangis tanpa pengharapan.”

Penderitaan tidak selalu menjawab “mengapa”, tetapi salib menunjukkan hati Allah
Ketika kita bertanya, “Di mana Allah ketika saya menderita?”, jawaban Injil adalah: Allah berada di salib. Allah tidak memberikan jawaban penderitaan hanya melalui teori. Ia memberikan Pribadi. Yesus Kristus masuk ke dalam dunia penderitaan. Ia dikhianati, ditolak, disalahpahami, ditinggalkan murid-murid-Nya, dicambuk, dipaku, dan mati di kayu salib. Allah bukan hanya berkata, “Saya tahu penderitaanmu.” Ia adalah Allah yang berkata, “Aku telah masuk ke dalam penderitaanmu.” Itulah Immanuel, Allah beserta kita. Tuhan mungkin tidak memberikan semua penjelasan “mengapa”, tetapi Ia memberikan diri-Nya.

Penderitaan dapat menjadi perapian yang memurnikan iman
Penderitaan tidak menyelamatkan kita. Kristus menyelamatkan kita. Tetapi penderitaan dapat menjadi alat yang dipakai Allah untuk menghancurkan kesombongan, memperdalam iman, membuat kita bergantung kepada Tuhan, mengajar kita berdoa, membuat kita lebih berbelas kasihan kepada orang lain, dan melepaskan kita dari ilusi bahwa kita mengendalikan hidup.

Penderitaan juga dapat membuat kita menjadi alat penghiburan bagi orang lain. Allah yang telah menghibur kita memampukan kita untuk menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan. Pengalaman penderitaan dapat membuat kita lebih berempati terhadap penderitaan orang lain.

Penderitaan bukan akhir cerita
Roma 8:18 berkata bahwa penderitaan zaman sekarang tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Paulus tidak mengatakan bahwa penderitaan kita kecil. Ia mengatakan bahwa kemuliaan yang akan datang jauh lebih besar. Wahyu 21:4 mengingatkan bahwa suatu hari Allah akan menghapus segala air mata. Maut tidak akan ada lagi. Tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis, atau dukacita. Kita tidak hanya berharap agar penderitaan dapat ditanggung, tetapi menantikan hari ketika penderitaan akan dihapuskan.

Tiga respons ketika kita menderita

  1. Jangan berpura-pura kuat. Datanglah kepada Tuhan dengan jujur. Iman bukan berarti tidak mempunyai pertanyaan. Iman berarti membawa pertanyaan kita kepada Allah.
  2. Jangan menderita sendirian. Datanglah kepada Tuhan dan hiduplah dalam komunitas iman. Gereja adalah komunitas orang berdosa yang sama-sama membutuhkan anugerah. Ketika satu orang menangis, kita menangis bersama. Ketika satu orang jatuh, kita mengangkatnya.
  3. Pandang Kristus. Jangan hanya melihat api. Lihat siapa yang berjalan bersama kita di dalam api. Kristus tidak selalu langsung mengeluarkan kita dari api, tetapi Kristus berjalan bersama kita di dalam api.

Jawaban terdalam bagi penderitaan bukanlah “mengapa”, tetapi “siapa”. Kita mungkin tidak selalu mengerti semua penjelasan, tetapi Injil mengingatkan bahwa Kristus menyertai kita. Penderitaan bukan akhir cerita, sebab Kristus akan membuat segala sesuatu baru.

DISKUSIKAN:

  1. Mengapa penting bagi orang percaya untuk tidak menyangkal realitas penderitaan, tetapi juga tidak tenggelam dalam penderitaan tanpa pengharapan?
  2. Ketika seseorang bertanya, “Di mana Allah saat saya menderita?”, bagaimana salib Kristus menolong kita melihat hati Allah?
  3. Bagaimana penderitaan dapat menjadi “perapian” yang dipakai Allah untuk memurnikan iman, membentuk belas kasihan, dan menolong kita menghibur orang lain?

REFLEKSIKAN:

  1. Saat saya mengalami penderitaan, apakah saya lebih sering berpura-pura kuat, menyimpan semuanya sendiri, atau datang kepada Tuhan dengan jujur?
  2. Dalam penderitaan yang saya alami, apakah saya hanya melihat “api”-nya dan mengeluh, atau saya belajar memandang Kristus yang berjalan bersama saya di dalam api?

Kiranya Tuhan memberkati Saudara

Tonton Video Kami yang Lain