Iman Yang Bergantung Kepada Kekuatan Allah 信在乎神的大能
Pdt. Reggy Andreas – 1 Korintus 哥林多前书 2:1-5
Ringkasan Khotbah
Iman harus terus dievaluasi melalui perenungan Firman Tuhan setiap hari. Firman adalah cermin yang menilai apakah iman kita berdasar pada Allah atau pada manusia.
Iman Jangan Berdasarkan Hikmat Manusia atau Hikmat Dunia (1 Korintus 2:1–5) Rasul Paulus menegaskan bahwa ia tidak datang dengan kata-kata indah atau hikmat manusia, melainkan hanya memberitakan Yesus Kristus yang disalibkan, supaya iman jemaat tidak bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kuasa Allah. Pertanyaannya:
- Apakah iman kita dibangun atas dasar pemikiran manusia?
- Atas otoritas siapa kita mengenal dan mendefinisikan Allah?
Di zaman sekarang, siapa pun bisa berbicara tentang Allah, terutama melalui media sosial. Banyak orang percaya Allah ada berdasarkan logika, sains, atau filsafat. Namun itu bisa saja hanya hasil penalaran manusia.
Iman Kristen bukan berdasar pada opini pribadi atau otoritas manusia (termasuk pendeta atau pemimpin agama), tetapi pada otoritas Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya melalui Firman.
Mengapa Hanya Kristus?
Paulus berkata (1 Korintus 2:2): Ia memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus Kristus yang disalibkan.
Padahal Paulus:
- Seorang Yahudi tulen
- Ahli Taurat dan Farisi
- Sangat taat tradisi
- Mengerti filsafat Yunani dan budaya Romawi
- Pernah menganiaya orang Kristen
Namun setelah mengenal Kristus, ia menganggap semuanya sampah dibanding pengenalan akan Kristus.
- Kristus adalah Hikmat Allah (1 Korintus 1:24)
Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah. Di luar Kristus, semua hanyalah hikmat dunia. Alkitab — dari Kejadian sampai Wahyu — berbicara tentang Kristus. Ditulis oleh 40 penulis dalam kurun ±1500 tahun, tetapi memiliki satu benang merah: keselamatan di dalam Yesus Kristus. Ini menunjukkan adanya satu “Sutradara” ilahi, yaitu Roh Kudus.2 Petrus 1:20–21 menegaskan bahwa Kitab Suci bukan hasil kehendak manusia, tetapi dorongan Roh Kudus. Yesus sendiri berkata dalam Yohanes 8:19: “Jika kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku.” Artinya, tidak mungkin mengenal Allah tanpa mengenal Kristus, karena Kristus adalah penyataan Allah yang sejati. - Kristus adalah Kuasa Allah (1 Korintus 2:3–4)
Paulus melayani bukan dengan kekuatan sendiri. Dalam kehidupan kita sehari-hari kita harus mengalami Yesus, bukan hanya tahu. Pengenalan Paulus akan Kristus memberi kekuatan kepada Paulus untuk menjalankan kehidupan dan pelayanan, juga memiliki pengalaman akan Kristus. Iman bukan hanya soal tahu, tetapi mengalami Kristus secara nyata. Seperti perempuan Samaria (Yohanes 4:25–26), banyak orang tahu tentang Mesias, tetapi belum sungguh mengalami Dia.
Bagaimana Mengalami Kristus?
Jawabannya adalah doa.
- Tanpa doa, iman mudah bergeser pada kekuatan diri sendiri.
- Ketika malas berdoa, kita tidak akan mengalami kuasa Kristus.
- Ketika tekun berdoa, kita pasti melihat kuasa Kristus.
- Tiada yang mustahil bagi Tuhan, tetapi menjadi mustahil karena kita malas berdoa.
Kemenangan orang percaya ditentukan oleh lutut yang bertekuk dalam doa.
SHARINGKAN DAN DISKUSIKAN:
- Apakah iman saya berdasar pada Kristus atau pada pemikiran manusia?
- Apakah saya sungguh mengenal Kristus atau hanya tahu tentang Dia?
- Apakah saya mengalami kuasa-Nya melalui kehidupan doa?
Iman sejati:
- Berdasar pada otoritas Firman Allah
- Berpusat pada Kristus
- Dikuatkan oleh Roh Kudus
- Dialami melalui kehidupan doa
Karena itu, cintailah Firman dan hiduplah dalam doa. Jangan sandarkan iman pada hikmat manusia, tetapi pada Yesus Kristus yang adalah hikmat dan kuasa Allah.
Kiranya Tuhan memberkati Saudara