Pentingnya Pendidikan Anak di dalam Keluarga Kristen 儿童教育在基督家庭的重要性

G.I. Michael Sander – Ulangan 申命记 6:4-7

Ringkasan Khotbah

Anak-anak bukan milik kita. Mereka adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Karena itu, kita bertanggung jawab untuk mendidik, mengasihi, dan membawa mereka kepada Tuhan, tetapi kita juga sadar bahwa hasil akhirnya ada di tangan Tuhan. Kita bukan juruselamat anak-anak kita. Hanya Tuhan yang sanggup mengubah hati mereka. Pendidikan iman dalam keluarga Kristen tidak hanya berbicara kepada orang tua yang masih memiliki anak kecil. Ada yang belum menikah, tidak mempunyai anak, anaknya sudah dewasa, tinggal jauh, atau bahkan pernah kehilangan anak. Peran kita memang berbeda, tetapi kita memiliki panggilan bersama. Di dalam Kristus kita adalah keluarga Allah. Pendidikan iman dimulai di rumah dan dikuatkan dalam keluarga Allah.

Dalam Ulangan 6:4–7, Tuhan memanggil umat-Nya untuk mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan, lalu mengajarkan firman-Nya berulang-ulang kepada anak-anak. Dari bagian ini, ada tiga hal yang perlu kita ingat. Pertama, Imani. Firman Tuhan harus lebih dahulu hidup di dalam diri kita. Sebelum firman diajarkan kepada anak-anak, firman itu harus tertanam di dalam hati orang dewasa. Tidak mungkin kita membagikan sesuatu yang kita belum miliki.

Anak-anak paling banyak belajar bukan hanya dari apa yang kita katakan, tetapi dari apa yang terus menerus mereka lihat. Mereka melihat apakah kita sungguh berdoa, mencintai firman, takut akan Tuhan, mengakui kesalahan, meminta maaf, dan bergantung kepada Tuhan. Namun, kita juga perlu ingat bahwa tidak ada orang tua, kakek-nenek, guru Sekolah Minggu, atau orang dewasa yang sempurna. Pengharapan kita bukan pada kemampuan kita menjadi teladan yang sempurna, tetapi pada Tuhan Yesus yang menyelamatkan, mengampuni, dan membentuk kita.

Kedua, Ajarkan. Rumah adalah tempat utama pendidikan iman. Sekolah Minggu, sekolah Kristen, dan program gereja penting, tetapi semuanya tidak dapat menggantikan peran keluarga. Dalam Mazmur 78:7 dikatakan tujuan utama pendidikan iman bukan sekadar supaya anak tidak nakal, mendapat nilai bagus, memiliki pekerjaan baik, atau tidak mempermalukan keluarga. Tujuannya adalah supaya mereka mengenal karya Allah, menaruh pengharapan kepada-Nya, dan hidup menaati firman-Nya. Pendidikan iman tidak selalu terjadi melalui acara besar. Ulangan 6 menyebut waktu-waktu biasa: saat duduk, dalam perjalanan, ketika berbaring, dan ketika bangun. Percakapan kecil, doa singkat, membaca firman sebelum tidur, mendengarkan isi hati anak, dan menghubungkan kehidupan sehari-hari dengan Tuhan adalah cara sederhana yang dapat membentuk iman mereka.

Ketiga, Dampingi. Orang tua adalah pendidik utama, tetapi mereka tidak dipanggil untuk berjalan sendirian. Gereja adalah keluarga Allah. Karena itu, gereja tidak boleh mengambil alih tanggung jawab orang tua, tetapi juga tidak boleh membiarkan keluarga berjalan sendirian. Setiap anggota jemaat dapat mengambil bagian: menyapa anak-anak, mendoakan mereka, memberi teladan dalam pelayanan, menunjukkan kasih, dan membuat mereka merasa menjadi bagian dari keluarga Allah. Anak-anak memperhatikan kehidupan kita, bahkan ketika kita merasa tidak sedang diperhatikan.

Bagi yang belum menikah, hidup kita bukan ruang tunggu sampai memiliki keluarga. Bagi pasangan yang tidak mempunyai anak, keluarga kita bukan keluarga yang kurang lengkap. Bagi yang kehilangan anak atau terpisah dari anak, Tuhan tetap dapat memakai doa, kasih, dan kesaksian hidup setiap kita.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita bertanya: firman seperti apa yang sedang hidup dalam hati saya? Apa yang sedang saya ajarkan melalui hidup saya? Apakah saya bersedia mendampingi generasi berikutnya? Mari kita mengingat tiga hal ini: Imani — Ajarkan — Dampingi. Dan sebagai langkah sederhana, pilih satu anak di sekitar kita. Sebutkan namanya dalam doa setiap hari. Satu anak, satu nama, setiap hari. Kiranya Tuhan menolong kita mengimani firman-Nya, mengajarkannya dengan setia, dan bersama-sama mendampingi generasi berikutnya mengenal Kristus.

DISKUSIKAN:

  1. Mengapa pendidikan iman anak tidak bisa hanya diserahkan kepada gereja, Sekolah Minggu, atau sekolah Kristen, tetapi perlu dimulai dari kehidupan sehari-hari di rumah?
  2. Dalam hal apa anak-anak paling sering belajar dari kehidupan orang dewasa: dari perkataan, kebiasaan, cara merespons masalah, atau relasi dengan Tuhan? Mengapa?
  3.  Bagaimana gereja sebagai keluarga Allah dapat mendampingi orang tua dan anak-anak tanpa mengambil alih peran utama keluarga?

REFLEKSIKAN:

  1. Firman seperti apa yang sedang hidup dalam hati saya, dan apa yang sedang saya ajarkan kepada generasi berikutnya melalui kehidupan saya sehari-hari?
  2. Siapa satu anak yang Tuhan tempatkan di sekitar saya untuk mulai saya doakan secara setia setiap hari?

Kiranya Tuhan memberkati Saudara

Tonton Video Kami yang Lain