Jangan Mencobai Tuhan 不可试探神

G.I. Philip Huang – 1 Korintus 哥林多前书 10:1-11

Ringkasan Khotbah

Bangsa Israel di padang gurun sudah mengalami banyak mujizat Tuhan: dibebaskan dari Mesir, diberi manna, dan diberi air dari batu karang. Namun mereka tetap bersungut-sungut dan melanggar perintah Tuhan seolah-olah tidak ada akibatnya. Paulus kemudian mengingatkan jemaat Korintus, “Janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular.” Mencobai Tuhan bukan sekadar menguji dalam arti netral, tetapi seperti kata ekpeirazo, yaitu mendorong sampai batas ekstrem, memancing kesabaran, atau menantang secara provokatif.

Mencobai Tuhan terlihat ketika seseorang tahu bahwa itu salah tetapi tetap melakukannya, memakai anugerah sebagai alasan, dan hidup seolah-olah Tuhan tidak melihat. Mencobai Tuhan selalu ada konsekuensinya. Dalam 1 Korintus 10, Paulus bahkan menunjukkan bahwa Kristus sudah hadir dan bangsa Israel sebenarnya sedang mencobai Kristus sendiri. Karena itu, ketika kita terus hidup dalam dosa yang kita tahu salah, kita bukan hanya melanggar aturan, tetapi menyakiti Pribadi yang paling mengasihi kita. Seperti dikatakan John Piper, “Mencobai Kristus bukan sekadar melanggar aturan — itu menyakiti sebuah hubungan.”

 

Ada tiga wajah modern mencobai Tuhan:

  1. Menunda pertobatan.
    Semakin seseorang menunda, semakin keras hatinya.
  2. Memakai anugerah sebagai izin berdosa.
    Anugerah bukan alasan untuk terus bermain-main dengan dosa. Hidup yang menerima anugerah seharusnya adalah hidup yang diubahkan.
  3. Terlalu sibuk untuk Tuhan.
    Seseorang bisa aktif dalam pelayanan, tetapi hidupnya sendiri tidak sungguh-sungguh diserahkan kepada Tuhan. Di tengah keramaian pelayanan, seseorang bisa tetap menyembunyikan dosa dan tidak hidup intim dengan Tuhan. 

Karena itu, orang percaya tidak boleh mengandalkan pengalaman atau pelayanan untuk memberi kesan bahwa dirinya hidup benar di hadapan Tuhan. Ada saatnya Tuhan mau bertemu dengan kita, pribadi dengan pribadi, satu per satu berhadapan dengan Tuhan. Pertanyaannya “Apakah kita hidup benar mengandalkan Tuhan?” Kita juga tidak boleh meminta Tuhan melakukan bagian-Nya, sementara bagian yang harus kita lakukan justru tidak kita kerjakan. Sikap seperti ini juga merupakan bentuk mencobai Tuhan.

 

Akibat jika seseorang terus mencobai Tuhan adalah

  1. Hati yang mengeras perlahan. Setiap ketidaktaatan membunuh sedikit kepekaan terhadap Tuhan
  2. Kehilangan damai sejahtera. Banyak orang hidupnya tampak luar biasa di luar, tapi di dalam tidak ada damai. Mereka mencari ketenangan di tempat-tempat yang salah.
  3. Kehilangan kesaksian hidup. Hidup yang mengaku milik Kristus tapi tidak takut kepada Tuhan adalah “argumen terkuat melawan Injil.”

Namun firman Tuhan juga memberikan jalan keluar. Dalam 1 Korintus 10:13 dikatakan bahwa Allah setia. Kesetiaan-Nya tidak bergantung pada kesetiaan kita. Ia tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita, tetapi menyediakan jalan keluar. Selalu ada jalan keluar — tapi kita harus mau melangkah. Tuhan setia, Tuhan membatasi beban, dan Tuhan menyediakan pintu darurat.

Karena itu, undangan Tuhan untuk kita adalah: Jangan tunda pertobatan. Hari ini adalah waktu yang tepat. Tinggalkan permainan dengan anugerah, karena anugerah sejati menghasilkan perubahan, bukan kenyamanan dalam dosa. Mari kita hadir sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Bukan karena takut dihukum, tetapi karena mengasihi Pribadi yang sungguh mengasihi kita.

 

DISKUSIKAN:

  1. Menurut Saudara, mengapa orang yang sudah menerima banyak kebaikan Tuhan tetap bisa jatuh dalam sikap mencobai Tuhan, seperti bangsa Israel di padang gurun?
  2. Dari tiga “wajah” modern mencobai Tuhan — menunda pertobatan, memakai anugerah sebagai izin berdosa, dan terlalu sibuk untuk Tuhan — mana yang paling sering terlihat dalam kehidupan orang percaya masa kini? Mengapa?
  3. Bagaimana seharusnya orang percaya memegang kebenaran bahwa Tuhan itu pengampun dan setia, tetapi pada saat yang sama Tuhan juga tidak membiarkan dosa dipermainkan?

REFLEKSIKAN:

  1. Apakah ada area dalam hidup saya saat ini di mana saya tahu itu salah, tetapi saya tetap melakukannya sambil berharap Tuhan akan diam saja?
  2. Apakah saya sungguh hadir di hadapan Tuhan dengan hidup yang diserahkan, atau saya justru sibuk dengan banyak hal sambil menunda pertobatan dan bermain-main dengan anugerah?

    Kiranya Tuhan memberkati Saudara

     

    Tonton Video Kami yang Lain