Iman yang Tidak Sia-sia 不落空的信心

G.I. Philip Huang– 1 Korintus 哥林多前书 15:12–34

Ringkasan Khotbah

Dalam sebuah legenda, ada seorang tua bernama Yu Gong yang ingin memindahkan gunung. Ia ingin masuk ke sebuah desa, tetapi terhalang oleh dua gunung besar. Menurut pandangan dunia, usaha itu tampak mustahil dan sia-sia karena kelemahan manusia. Namun, dengan visi jangka panjang, keyakinan pada proses yang berkelanjutan, dan intervensi ilahi, apa yang tampak sia-sia ternyata memiliki arah.

Pertanyaannya: apakah iman dan pelayanan kita sia-sia? Paulus menegaskan bahwa “Jika tidak ada kebangkitan, semua jerih payah kita tidak bermakna.” Tanpa kebangkitan:

  • Kristus tidak bangkit,
  • Pemberitaan Injil menjadi kosong, iman menjadi sia-sia,
  • Orang percaya masih hidup dalam dosa, mereka yang mati binasa, dan kita menjadi orang yang paling malang.

Ada dua kata penting untuk memahami kekosongan ini: kenos dan mataios.

Kenos berarti kosong tanpa substansi. Iman kehilangan isi dan kebenarannya.

Mataios berarti sia-sia atau tidak mencapai tujuan. Iman kehilangan arah, seperti kapal tanpa muatan.

 

Iman Kristen diletakkan di atas dasar bahwa Kristus mati dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Jika Kristus tidak mati dan tidak dibangkitkan, maka pelayanan, doa, dan seluruh jerih payah kita tidak ada gunanya. Namun Kristus yang bangkit adalah kekuatan bagi kita dalam menjalani kehidupan.

Paulus kemudian memberikan nada pembalikan pada ayat ke-8: “Tetapi kini…” Segala sesuatu berubah. Yang kosong menjadi berisi. Yang tadinya dianggap sia-sia menjadi bermakna. Kristus disebut sebagai yang sulung. Kata sulung berasal dari kata aparche yang berarti hasil panen pertama yang dipersembahkan sebagai jaminan panen penuh. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bagi kebangkitan orang-orang percaya.

Paulus lalu membandingkan dua kemanusiaan, yaitu jalur Adam dan jalur Kristus.

Jalur Adam:

Satu pelanggaran membawa maut. Manusia terhubung pada kebinasaan.

Jalur Kristus:

Satu ketaatan membawa kebangkitan. Manusia terhubung pada kehidupan kekal.

 

 

Dalam ayat 23, Paulus menunjukkan adanya keteraturan ilahi. Kata Tagma menggambarkan barisan militer yang bergerak tertib menuju kemenangan. Artinya, kemenangan akhir sudah menjadi milik setiap orang yang percaya kepada Kristus.

Dalam hidup ini, kita menghadapi banyak kesulitan dan pergumulan yang datang silih berganti. Jika Kristus tidak dibangkitkan, tidak mungkin kita dapat melewati semuanya dengan pengharapan. Tetapi karena Kristus mati dan dibangkitkan, setiap pergumulan memiliki arah dan harapan. Iman kita tidak sia-sia, dan pengharapan kita bukan pengharapan yang kosong.

Jika Kristus tidak bangkit, semua menjadi kenos: kosong dan sia-sia. Tetapi karena Kristus bangkit, semua usaha kita tidak sia-sia. Karena Dia adalah Raja di atas segala raja, yang mati dan dibangkitkan, yang memberi pengharapan dan menjadikan iman kita tidak sia-sia, maka pertanyaannya adalah: apa respons kita?

DISKUSIKAN:

  1. Mengapa iman Kristen menjadi kosong dan sia-sia jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit dari antara orang mati?
  2. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana kebangkitan Kristus memberi arah dan pengharapan ketika kita menghadapi pergumulan, penderitaan, atau pelayanan yang terasa berat?
  3. Apa bedanya menjalani hidup dan pelayanan hanya dengan kekuatan manusia, dibandingkan menjalaninya berdasarkan keyakinan bahwa Kristus sudah bangkit dan menang?

REFLEKSIKAN:

  1. Apakah selama ini saya menjalani iman dan pelayanan dengan pengharapan yang sungguh berakar pada kebangkitan Kristus, atau hanya karena rutinitas dan kewajiban?
  2. Jika Kristus yang bangkit menjamin bahwa iman dan jerih payah kita tidak sia-sia, respons apa yang perlu saya berikan kepada Tuhan hari ini?

Kiranya Tuhan memberkati Saudara

Tonton Video Kami yang Lain