Article

Percayalah Kepada Tuhan

Saturday, 02 May 2020

Ulangan 1:19-46

Kitab ulangan ini menceritakan ulang kembali kisah perjalanan Musa dan bangsa Israel tentang apa yang terjadi kepada mereka di tahun yang silam. Selama 40 tahun mereka berada di padang gurun dan hampir saja masuk ke dalam Tanah Perjanjian. Namun karena ketidakpercayaan mereka terhadap Tuhan, dan sikap mereka yang lebih percaya kepada diri sendiri dibandingkan dengan percaya kepada Tuhan, membuat Tuhan begitu murka dan marah terhadap mereka. Hanya Kaleb dan Yosua sebagai pemimpin bangsa Israel dan semua keturunan di bawah 20 tahun saja yang bisa masuk ke dalam Tanah Perjanjian. Kitab ini merupakan perintah Tuhan kepada Musa untuk menceritakan ulang kepada generasi yang berikutnya agar mereka bisa belajar dari kesalahan dan mengingat kembali akan perintah-perintah Tuhan.

Di dalam perikop yang kita baca mengenai 12 pengintai. Tibalah musa dan seluruh bangsa Israel dari berjalan begitu panjang dan lama selama kurang lebih 40 tahun di dalam padang gurun yang begitu luas dan panas. Akhirnya mereka tiba di negeri yang telah Tuhan janjikan kepada mereka. Musa mengatakan bahwa Tuhan telah menyerahkan negeri itu kepada mereka, dan mereka hanya tinggal mengikuti perintah Tuhan yaitu “Majulah dan dudukilah negeri itu.” Ini sebenarnya adalah perintah Tuhan yang sederhana saja, Tuhan sudah menyediakan yang mereka nanti-nantikan di selama berpuluh-puluh tahun. Mereka hanya tinggal masuk dan menduduki negeri itu tanpa melakukan hal-hal lainnya lagi, tinggal masuk saja. Tidak perlu berperang, tidak perlu mempersiapkan ini dan itu. Hanya tinggal masuk saja.

Ibarat kata seperti Tuhan memberikan rumah baru yang begitu bagus kepada bangsa Israel, rumah itu sudah berisi properti, barang-barang yang sudah siap tersedia, seperti; sofa, tempat tidur, meja, lemari, furniture dan semua yang diperlukan. Seperti listrik, air, internet, semua sudah tersedia dengan lengkap dan nyaman. Hanya tinggal masuk koper dan menikmati apa yang sudah dijanjikan oleh Tuhan. Tuhan mengatakan kepada mereka: “Semua ini sudah aku siapkan kepadamu dan kamu hanya tinggal masuk dan menikmati ini semua.”

Terhadap persoalan ini, sedikitnya ada dua respons yang sekiranya akan terjadi; pertama, mereka percaya, karena tinggal masuk saja dan menikmati fasilitas yang sudah disediakan, atau respons yang kedua; tidak percaya dan menolak semua itu. Mari kita melihat bagaimana bangsa Israel ketika Tuhan sudah begitu baik menyediakan itu semua bagi mereka?

1. Tidak percaya kepada Tuhan

Mereka tidak percaya akan perintah Tuhan, mereka ragu dan meniliainya sebagai sebuah jebakan. Mereka khawatir, jangan-jangan ini hanyalah omongan kosong, tipuan belaka, atau malah rancanganan kejahatan. Mereka curiga sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mereka. Meskipun 12 Pengintai itu kembali, tidak membuat bangsa Israel menjadi tidak percaya juga. 10 orang dari 12 Pengintai bahkan memberikan berita yang negatif; mereka mengatakan di sana ada orang-orang, raksasa dan kuat, dengan kubu-kubu pertahanan begitu tinggi, kalau kesana sudah pasti mati.

Begitu mendengar hal itu, langsung semua bangsa Israel menggerutu, komplain kepada Tuhan, komplain kepada Musa. Bagaimana ini? Sudah 40 tahun berjalan di padang pasir, susah-susah, katanya mau diberikan tempat yang begitu baik. Nyatanya di sana banyak jebakan dan kalau ke sana sudah pasti mati. Kalau tahu begitu, lebih enak tinggal di Mesir.

Inilah respons bangsa Israel kepada Tuhan. Mereka tidak percaya kepada Tuhan. Itulah yang menjadi respons pertama bangsa Israel kepada Tuhan. Mereka tidak percaya akan janji Tuhan, bahkan mereka tidak percaya bahwa Tuhan ada bersama-sama dengan mereka, yang perlu mereka lakukan hanya tinggal maju dan menduduki tanah itu. Namun, mereka tidak mempunyai iman untuk melakukan itu semua. Mereka lebih memilih untuk memakai kepintaran sendiri, kemampuan sendiri, pandangan sendiri di dalam menilai itu semua, daripada percaya kepada Tuhan.

Sebenarnya perilaku dari bangsa Israel ini mencerminkan dari sikap manusia atau kehidupan kita secara pribadi. Kita mempunyai natur untuk mempercayai diri kita sendiri atau kita lebih mempercayai apa kata orang, apa kata orang pintar, apa yang lebih baik didengar dibandingkan dengan apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan.

Mengawali awal tahun 2020 ini, tentu kita tidak bisa melihat ke depan atau memprediksi apa yang akan terjadi terhadap pekerjaan, kesehatan, dan keluarga kita. Buktinya, banjir baru saja terjadi, tidak ada orang yang menyangka akan ada banjir besar di awal tahun ini. Banjir seperti ini membuat kita sulit untuk bekerja, rumah menjadi sangat kotor dan perlu dibersihkan, listrik mati, mungkin harus mengungsi, tidak bisa keluar sana-sini, mungkin banyak yang terendam banjir, dan banyak peralatan menjadi rusak, ada banyak kerugian-kerugian, bahkan ada rencana yang sudah disusun dengan baik menjadi batal.

Kehidupan kita di tahun ini mungkin saja bisa sama seperti banjir yang kita tidak tahu kapan akan datang. Mungkin Tuhan izinkan kesulitan atau pergumulan itu terjadi di dalam pekerjaan, kesehatan, atau keluarga kita. Namun apakah yang menjadi respons kita di tengah situasi dan kondisi yang Tuhan ijinkan? Apakah kita mau percaya kepadaNya? Ataukah kita mau lebih percaya kepada diri sendiri dan orang lain? Seperti yang terjadi dengan bangsa Israel.

Di dalam pergumulan hidup kita, Tuhan rindu kita bersandar penuh kepada-Nya. Berdoa kepadanya dan berjalan melewati lembah kekelaman itu dengan penuh iman. Di luar sana, ada banyak solusi atau jawaban menurut perhitungan manusia ataupun diri sendiri. Pada point pertama ini kita belajar untuk terus mengandalkan dan percaya kepada Tuhan di dalam berbagai kondisi dan situasi, walaupun berada dalam situasi yang begitu sulit.

2. Melupakan apa yang sudah Tuhan perbuat baginya

Di tengah kegalauan bangsa Israel, Musa sebagai pemimpin umat Tuhan mengingatkan mereka: ”Janganlah gemetar! jangan takut! Tuhan Allah-Mu berjalan di depanmu. Dia akan berperang bagimu sama seperti waktu dulu dalam peperangan dan juga Tuhanlah mendukung kamu di sepanjang jalan yang kamu tempuh. Ada tiang awan dan tiang api bukti kasih Tuhan memelihara dirimu sepanjang jalan.” Musa langsung menceritakan kepada mereka apa saja yang sudah Tuhan lakukan sepanjang jalan perjalanan yang telah dilalui bersama Tuhan. Namun mereka telah lupa bahwa setiap langkah, ada jejak bersama dengan Tuhan. Mereka seakan-akan dibutakan dan diselimuti oleh masalah itu dan lupa apa saja yang Tuhan sudah lakukan baginya.

Inilah respons kedua dari bangsa Israel. Dimana mereka melupakan apa yang sudah Tuhan perbuat baginya. Mereka lupa bahwa Tuhan sudah berjalan bersama-sama di sepanjang tahun. Ada banyak berkat yang sebenarnya telah dirasakan oleh bangsa Israel. Tuhan telah melakukan banyak perkara bagi mereka. Itulah berkat terindah yang telah mereka terima. Tetapi mereka tidak menyadarinya. Mata mereka seakan-akan tidak bisa melihat akan hal itu, fokus mereka hanya kepada masalah atau situasi yang ada, bukan kepada Tuhan.

Bagaimana respons Tuhan ketika bangsa Israel tidak percaya dan melupakan apa yang sudah Tuhan lakukan bagi mereka? Tuhan murka kepada mereka. Tuhan hanya mengizinkan Kaleb, Yosua, dan generasi yang di bawah 20 tahun yang akan masuk ke dalam Tanah Perjanjian. Selebihnya, mereka tidak diperbolehkan memasuki Tanah Perjanjian.

Mereka nangis kepada Tuhan, mengaku dosa, minta ampun sama Tuhan, dan menyesal atas perbuatan yang telah dilakukan. Setelah Tuhan murka barulah mereka mau melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi semua itu sudah terlambat. Tuhan berkata; Tuhan tidak ada bersama-sama dengan mereka. Ketika bangsa lain menyerang, mereka pasti akan dikalahkan. Bahkan Tuhan mengatakan ketika mereka menangis, Tuhan tidak mendengarkan tangisannya.

Tentu hal ini sangat menyedihkan, karena Tuhan pada awalnya mengatakan akan bersama-sama dengan mereka, mendukung dan berperang bagi mereka. Namun tiba-tiba Tuhan berpaling 180 derajat, Ia tidak berperang bagi mereka, tidak ada bersama-sama mereka, Ia bahkan tidak peduli. Hal ini merupakan peristiwa yang sangat menyedihkan ketika Tuhan melupakan bangsa-Nya dan meninggalkannya.

Pada poin kedua ini kita bisa belajar dari bangsa Israel untuk tidak melupakan kebaikan dan berkat Tuhan. Kita belajar untuk mengingat akan berkat Tuhan dan apa saja yang sudah Tuhan perbuat di masa lampau. Di tahun 2019, 2018, 2017, di 5, 10, 20,30 tahun yang lalu. Apa saja yang sudah Tuhan perbuat bagi kita? Di sepanjang jalan kita, ketika kita mengingat itu semua bahwa sebenarnya ada jejak kaki Tuhan yang berjalan bersama-sama dengan kita. Itulah berkat yang terindah yang kita rasakan.

Di tahun 2020 ini, mungkin akan ada banyak suka, duka, tantangan, cobaan, pergumulan, dan berkat yang akan kita alami. Apakah yang menjadi respons kita kepada Tuhan ketika semua itu Tuhan ijinkan terjadi? Apakah kita mau seperti bangsa Israel yang tidak percaya dan melupakan apa yang sudah Tuhan perbuat bagi mereka? Ataukah kita mau percaya kepada Tuhan dan ingat bahwa ada Tuhan yang selalu bersama-sama dengan kita di tahun2 yang telah kita lewati.

Baru saja seminggu yang lalu kita melewati hari Natal. Berita Natal adalah berita di mana Allah mau tinggal bersama-sama dengan kita. Dialah Allah imannuel, Allah yang menyertai kita. Dialah Allah yang akan menyertai kita di sepanjang jalan 2020. Marilah kita berjalan dengan penuh iman di tahun 2020 ini dan ketika kita melihat di tahun-tahun yang lalu, kita bisa menghitung berkat Tuhan dan mengingat apa saja yang telah Tuhan perbuat bagi kita. Kiranya hal ini akan membuat kita untuk terus melangkah dengan penuh kepastian bahwa Tuhan ada bersama-sama dengan kita.

Disusun Oleh: GI. Jose Christian

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?