Kepuasan dan Rasa Cukup Kehidupan

- Amsal 23 -

Menghentikan kereta yang sedang berjalan dengan kekuatan tangan manusia adalah usaha yang mustahil berhasil. Aksi semacam itu hanyalah khayalan tentang para superhero dalam cerita untuk anak- anak. Tindakan manusia mengejar kekayaan juga mustahil terlaksana, karena standar kaya itu bisa tanpa batas. Mendapat upah sebagai hasil kerja itu wajar. Akan tetapi, bagaimana kita bisa bekerja tanpa berambisi untuk menjadi kaya? Bukankah hal ini juga mustahil? Penulis kitab Amsal melihat bahwa pembacanya sedang bersusah payah untuk menjadi kaya, sehingga ia berkata, “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini.” (23:4). Penulis menyuruh pembacanya meninggalkan niat untuk jadi kaya. Mengapa penulis berkata demikian? Penulis memperlihatkan betapa fananya kekayaan itu: sebentar ada, kemudian bisa lenyap dalam sekejap (23:5). Banyak cerita dalam hidup kita, bahwa kekayaan mudah sekali sirna saat sakit penyakit datang menerpa, atau karena kita ditipu orang. Jika tujuan bekerja hanya untuk mengejar kekayaan, hal itu akan sia-sia dan tidak memiliki makna bagi kehidupan kita. Bagaimana kita bisa memiliki makna dan kepuasan dalam hidup kita, padahal hidup ini jelas memerlukan uang? Pertama, ingatlah bahwa kepuasan dan makna hidup hanya ada di dalam Kristus (bandingkan dengan Yohanes 10:10b), bukan di dalam kekayaan. Karena kita memiliki kepuasan dan keamanan di dalam Kristus, harta atau kekayaan yang kita peroleh bukan sumber kepuasan, melainkan alat untuk memuliakan Tuhan dan alat untuk menjadi berkat bagi sesama. Kedua, milikilah rasa cukup atas penghasilan yang kita terima, yang merupakan wujud pemeliharaan Tuhan melalui pekerjaan kita. “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.” (1 Timotius 6:6). Rasa cukup muncul dari ucapan syukur kepada Tuhan yang memelihara hidup kita. Ukuran cukup itu berbeda-beda. Rasul Paulus mengajarkan bahwa, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” (1 Timotius 6:8). Bagi kita saat ini, yang penting adalah bahwa kita perlu merasa puas dengan apa pun yang Tuhan berikan untuk menopang hidup kita. . Apa yang membuat Anda bekerja mati-matian? Jika Anda bekerja untuk mengejar kekayaan, hentikanlah itu! Hanya di dalam Tuhan ada kepuasan dan rasa cukup bagi kehidupan Anda! Apakah Tuhan telah dimuliakan melalui pekerjaan Anda? [FL]

Tuesday, 30 November 2021

Pemimpin yang Dihormati dan Dikasihi

- Amsal 22 -

Setiap orang adalah pemimpin, setidaknya pemimpin bagi dirinya sendiri. Ada dua tipe pemimpin: Pertama, pemimpin yang dihormati, namun tidak dikasihi. Pemimpin semacam ini biasanya berwibawa, visioner, perkataannya penuh hikmat, namun menjaga jarak dengan pengikutnya, kurang hangat, dan tidak pandai berelasi. Tipe pemimpin pertama rentan akan bahaya kesepian. Kedua, pemimpin yang dikasihi, namun kurang dihormati. Pemimpin ini diangkat jadi pemimpin karena populer, banyak yang menyukai dia. Dia dekat dan hangat dengan para pengikutnya. Setiap orang bisa merasakan kebaikan hatinya. Namun, saat memimpin, organisasi yang ia pimpin berjalan di tempat. Pemimpin jenis ini lebih menekankan kebersamaan ketimbang pencapaian. Sangat jarang ditemukan pemimpin yang dihormati dan sekaligus dikasihi. Kitab Amsal mengingatkan pentingnya kedua hal di atas dalam diri kita, “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.” (22:1). Pada masa kini, sering kali orang mengorbankan salah satu atau kedua hal itu. Ada orang yang menipu orang lain, lalu pindah ke kota lain. Ada wanita yang hamil di luar nikah, lalu meninggalkan kota untuk melahirkan anak-anak mereka. Banyak orang pada zaman ini yang mengabaikan pentingnya “nama baik” atau kehormatan dan lebih mengutamakan pencapaian atau pemuasan diri sendiri. Penulis Amsal ini mengingatkan bahwa dikasihi dan dihormati itu sama penting. Keduanya—dihormati dan dikasihi— sangat berharga dan bernilai, serta tidak dapat dibandingkan dengan kekayaan materi. Anak-anak Tuhan tidak perlu mengejar persepsi orang untuk dihormati dan dikasihi karena kita telah dikasihi dan dihormati oleh Tuhan sendiri. Namun, hal itu tidak berarti bahwa kita boleh hidup asal- asalan. Anak-anak Tuhan harus hidup bagi Tuhan serta mengarahkan hati kepada Yesus Kristus yang menjadi teladan untuk dihormati dan dikasihi. Saat Tuhan Yesus hadir sebagai Manusia di dunia ini, Ia tidak mencari hormat dan kasih dari para pengikut-Nya. Ia punya visi yang jelas untuk menggenapi rencana Allah Bapa dengan salib sebagai fokus hidup-Nya. Namun, Ia memiliki relasi yang dekat dengan para pengikut- Nya. Ia hidup bersama-sama dengan mereka. Ia membuka hidup-Nya untuk dilihat dan dikenal. Apakah Anda memiliki kesulitan untuk menjadi pribadi yang dihormati dan dikasihi? [FL]

Monday, 29 November 2021

Tuhan Mengontrol Sejarah

- Amsal 21 -

Majalah Christianity Today, 15 Januari 2020, memaparkan bahwa di seluruh dunia, setiap hari ada 8 orang Kristen mati dibunuh karena imannya. Setiap minggu, 182 gereja atau rumah orang Kristen dirusak. Setiap bulan, 309 orang Kristen dipenjarakan tanpa keadilan. Betapa sulitnya kehidupan orang Kristen di lima negara, yaitu—mulai dari yang paling sulit—Korea Utara, Afghanistan, Somalia, Libya, dan Pakistan. Keadaan itu mungkin membuat kita bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau mengizinkan semua ini terjadi?” Kita ingin agar Tuhan campur tangan untuk menghentikan penderitaan yang dialami orang Kristen dan meng- hukum para pemimpin negara yang membiarkan terjadinya kejahatan dan penganiayaan terhadap orang Kristen. Namun, tindakan Tuhan amat senyap. Mengapa Tuhan seolah-olah diam saja? Pertanyaan di atas tak mudah dijawab. Kitab Amsal mengingatkan bahwa Tuhan memiliki rencana khusus yang tidak selalu bisa kita bayangkan melalui para pemimpin negara, “Hati raja seperti batang air di dalam tangan TUHAN, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.” (21:1). Sebagaimana para petani bisa membuka dan menutup saluran air untuk mengontrol perairan sawah, demikian pula Tuhan berdaulat untuk mengendalikan hati para pemimpin dunia. Ingatlah bahwa Raja Koresy dari Persia bisa dipakai Tuhan untuk mengembalikan bangsa Israel ke daerah asalnya. Ingatlah bahwa Tuhan bisa “mengeraskan hati” Firaun untuk menyatakan kemuliaan-Nya di tengah bangsa Mesir dan bangsa Israel. Ingatlah bahwa Tuhan bisa memakai kaisar Agustus untuk mengadakan sensus, sehingga Maria melahirkan bayi Yesus Kristus di Bethlehem sesuai dengan nubuat Perjanjian Lama. Jelas bahwa para pemimpin negara tidak memiliki kekuasaan mutlak. Sesungguhnya, Tuhan- lah yang memegang kendali dan mengontrol sejarah. Sebagai anak-anak Tuhan yang memahami kehendak Tuhan dalam sejarah, walaupun secara terbatas, seharusnya kita tidak dikuasai oleh rasa khawatir, dan kita tetap beriman kepada Allah pada masa pandemi ini. Allah yang mengontrol sejarah adalah Allah yang berkuasa mengendalikan segala sesuatu. Apakah Anda sudah mulai mendoakan para pemimpin negara kita dengan keyakinan bahwa rencana Allah pasti akan terlaksana? Apakah Anda sudah berdoa agar kita bisa tetap setia memberitakan Injil dan nama Tuhan semakin dikenal serta disembah oleh segala suku, bangsa, dan bahasa? [FL]

Sunday, 28 November 2021

Menghargai Berkat Tuhan

- Amsal 20 -

Para orang tua yang kaya raya kadang-kadang sengaja tidak langsung menyerahkan harta dan usaha mereka kepada anak-anak mereka. Anak-anak itu diwajibkan untuk bekerja dan menjadi bawahan orang lain lebih dahulu agar memahami pentingnya kerja keras dan sulitnya mendapat uang, sehingga mereka bisa menghargai setiap rupiah dari harta dan usaha yang mereka warisi. Penulis kitab Amsal berkata, “Milik yang diperoleh dengan cepat pada mulanya, akhirnya tidak diberkati.” (20:21). Amsal ini mengajarkan tentang pentingnya kerja keras untuk mendapatkan sesuatu. Sesuatu yang diperoleh dengan kerja keras akan lebih dihargai daripada yang diperoleh secara mudah. Bagaimana kita bisa menghargai keselamatan di dalam Kristus yang kita peroleh secara cuma-cuma itu? Keselamatan itu kita hargai karena keselamatan dibayar dengan harga yang sangat mahal, yaitu melalui pengorbanan tubuh dan darah Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, keselamatan harus kita terima dengan kesadaran bahwa kita tidak layak menerimanya. Tuhan Yesus sengaja turun ke dunia untuk menebus kita dari hukuman dosa dengan mati di kayu salib supaya kita melihat dan menghargai pengorbanan yang sudah Dia lakukan bagi kita. Kitab Amsal mengajarkan bahwa baik harta duniawi maupun harta sorgawi—yaitu keselamatan jiwa—yang kita terima baru bisa kita hargai bila kita menghayati betapa besarnya pengorbanan atau kerja keras yang telah dilakukan agar kita bisa memperoleh apa yang telah kita terima itu. Sebagai orang tua, apakah Anda sudah mendidik anak- anak Anda untuk menghargai baik harta duniawi maupun harta sorgawi—yaitu keselamatan jiwa—yang mereka terima? Anak tidak akan rusak jika orang tuanya miskin harta, tetapi anak akan rusak jika orang tuanya miskin didikan dan kasih sayang. Warisan terbaik yang bisa diberikan seseorang kepada keturunan selanjutnya bukan hanya harta, tetapi terutama adalah didikan agar generasi selanjutnya hidup dalam kebenaran dan takut akan Tuhan. Ada anak-anak Tuhan yang hidup tidak bahagia, bukan karena mereka tidak memiliki keselamatan atau harta rohani, tetapi karena mereka tidak menghargai dan tidak mengucap syukur atas berkat yang telah mereka terima. Jika hidup Anda tidak bahagia, jangan-jangan hal itu terjadi karena Anda selalu mengeluh dan jarang mengucap syukur. Belajarlah untuk menghargai berkat Tuhan! [FL]

Saturday, 27 November 2021

Aturan, Sebagai Pagar dari Tuhan!

- Amsal 19 -

Ada banyak aturan dalam kekristenan, misalnya aturan kekudusan pernikahan—yaitu kewajiban untuk setia pada pasangan dan tidak boleh bercerai, aturan beribadah secara pribadi dan bersama-sama, aturan menghormati orang tua dan atasan, aturan hidup jujur dan penuh kasih kepada sesama, dan masih banyak lagi. Mengapa aturan-aturan itu harus ditaati? Bagaimana memaknai aturan secara tepat agar kita tidak hanya sekadar menjalankan kewajiban agama, tetapi kita mengikuti aturan sebagai wujud ketaatan terhadap kehendak Tuhan? Kitab Amsal mengajar kita, “Siapa berpegang pada perintah, memelihara nyawanya, tetapi siapa menghina firman, akan mati.” (19:16). Kata perintah juga bisa berarti hukum. Dalam kitab Amsal, hukum adalah ajaran atau nasihat tentang karakteristik kehidupan yang takut akan Tuhan. Kitab Amsal mengingatkan bahwa orang yang memelihara/ berpegang pada hukum adalah orang yang paling beruntung. Orang yang memelihara hukum itu seperti orang yang menaati rambu-rambu lalu lintas. Menaati rambu lalu lintas sebenarnya merupakan tindakan menjaga keselamatan diri sendiri. Tuhan Yesus mendorong para murid-Nya untuk menaati perintah- Nya. Apa tujuan Tuhan Yesus? Tuhan Yesus bersabda, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya..” (Yohanes 15:9-10). Sangat jelas bahwa Tuhan Yesus meminta murid-murid-Nya untuk taat agar mereka mengalami keuntungan lebih dahulu yaitu tinggal dalam kasih Tuhan. Menaati seluruh perkataan/firman Tuhan adalah cara Tuhan untuk membuat anak-anak Tuhan bisa tinggal dalam kasih Tuhan. Ketika mereka tinggal dalam kasih Tuhan, mereka dapat merasakan sukacita penuh dari Tuhan (Yohanes 15:11). Sama seperti orang tua membuat banyak peraturan sebagai pagar bagi anak-anaknya agar mereka memiliki kehidupan yang baik dan berbahagia, demikian pula perintah Tuhan adalah pagar bagi hidup kita supaya kita tetap hidup dalam kasih-Nya. Apa perintah Tuhan yang selama ini sulit untuk Anda taati? Apakah Anda sudah memaknai perintah tersebut sebagai pagar dari Tuhan? [FL]

Friday, 26 November 2021

 1 2 3 Next  Last

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?