Letter of Pastor

Kepekaan Ilahi

- Markus 14:1-9 -

Ada tiga peristiwa yang berlangsung menjelang kematian Tuhan Yesus. Yang pertama (para imam kepala dan para ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Tuhan Yesus dengan tipu muslihat) dan yang ketiga (seorang perempuan mencurahkan minyak narwastu murni yang mahal sebagai persiapan penguburan Tuhan Yesus) merupakan kontras. Yang satu menyusun rencana keji untuk membunuh secara membabi buta (menghalalkan segala cara), yang lain mempersiapkan kematian Yesus Kristus dengan perasaan hancur. Di antara kedua peristiwa itu, yang dilakukan para murid adalah tidak melakukan apa-apa (dan tidak merasakan apa-apa). Oh, maaf, mereka bukan tidak melakukan apa-apa! Mereka melakukan sesuatu! Mereka memarahi si perempuan yang mereka anggap melakukan pemborosan dengan menuangkan minyak seharga Rp 47.280.000 (kurs 1 dinar hari ini setara dengan Rp 157.600, asumsi UMP Jakarta tahun 2019 Rp 3.940.000/bulan dibagi 25 hari kerja) ke atas kepala Yesus Kristus. Kelakuan para imam kepala dan para ahli Taurat sangat menjijikkan. Dua hari lagi mereka akan merayakan hari suci keagamaan, tetapi mereka tidak mempersiapkan hati. Mereka malah mengotori hati mereka dengan melanggar perintah “Jangan membunuh” yang biasa mereka ajarkan. Kita tentu tidak mau hal seperti ini terjadi di hati kita bukan? Kita tentu juga tidak mau menjadi seperti 12 murid yang bisa-bisanya tidak peka dan malah memarahi seorang wanita karena melakukan pemborosan demi Sang Guru yang sudah tiga tahun hidup bersama-sama dengan mereka. Entah mengapa, para murid terus-menerus gagal paham terhadap Guru mereka. Wanita ini menghabiskan lebih dari 47 juta rupiah demi Yesus Kristus. Entah sudah berapa banyak uang yang keluar dari kantong murid-murid demi Sang Guru? Belum lagi, ternyata bahwa salah satu dari mereka malah mencuri (Yohanes 12:6). Bukankah kita akan mikir-mikir untuk menghabiskan 47 juta lebih dalam waktu sekejap untuk sesuatu yang belum tentu dihargai orang lain? Walaupun tidak mudah, saya yakin kita ingin melakukan seperti wanita yang tindakannya sangat dihargai Tuhan Yesus ini. Tuhan Yesus mengatakan, “Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia (Markus 14:9).” Bukan hanya Tuhan yang akan mengingat apa yang wanita tanpa nama ini lakukan, kita para pembaca Alkitab juga! [MN]

Friday, 03 April 2020

Persiapan Lebih Penting dari Perhitungan

- Markus 13:24-37 -

Saya masih ingat betapa antusiasnya saya dan istri saya menyambut kelahiran anak pertama kami. Kami mencari kereta dorong, ranjang bayi, baju bayi, serta mencari informasi tentang susu formula yang baik, hingga membeli buku untuk mendapatkan nama bayi yang baik yang sesuai dengan harapan kami. Saya juga masih ingat hari-hari menjelang pernikahan kami. Kami mencari gaun pengantin yang sesuai dengan selera istri saya, pergi ke beberapa tempat untuk survei restoran yang baik, namun sesuai dengan anggaran kami. Kami mendaftarkan nama tamu yang ingin kami undang, menyewa mobil, membeli ranjang, lemari, dan melakukan banyak hal lainnya. Kami berusaha sebaik-baiknya untuk mempersiapkan diri menyambut hari yang kami anggap sangat penting bagi kami itu. Tuhan Yesus menggambarkan hari yang besar saat Ia datang kembali untuk kedua kalinya, “Anak Manusia datang dalam awan-awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Dan pada waktu itu pun Ia akan menyuruh keluar malaikat-malaikat-Nya dan akan mengumpul¬kan orang-orang pilihan-Nya dari keempat penjuru bumi, dari ujung bumi sampai ke ujung langit.” (13:26b-27). Pemandangan itu tidak terba¬yangkan! Hari itu pasti akan tiba! Tuhan Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (13:31). Akan tetapi, kapan semuanya itu akan terwujud? Tidak ada seorang pun yang tahu! (13:32). Akan tetapi, Tuhan Yesus memastikan bahwa akan ada tanda-tanda keda¬tangan-Nya yang memberi petunjuk kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Yang menarik, saat itu, Tuhan Yesus tidak menyarankan para pendengar-Nya menghitung waktunya masih berapa lama lagi, tetapi paling sedikit empat kali Ia mengingatkan mereka untuk berjaga-jaga (13:33,34,35,37). Jangan menghitung, tetapi lakukanlah persiapan: “Berjaga-jagalah!” Kita tahu cara mempersiapkan diri sebelum sampai ke suatu hari yang kita anggap penting (pernikahan, kelahiran anak, wisuda, memperingati ulang tahun, dan sebagainya). Akan tetapi, apakah kita tidak memiliki petunjuk tentang cara berjaga-jaga mempersiapkan diri menanti kedatangan Kristus kedua kali? Alkitab mengajarkan bahwa berjaga-jaga itu bukan berarti tidak melakukan apa-apa, melainkan justru melakukan tugas dengan setia (13:34). Jadi, arti berjaga-jaga itu sangat sederhana, “Lakukanlah firman Tuhan!” Selamat bersiap! [MN]

Thursday, 02 April 2020

Tebuslah Kesempatan

- Markus 13:1-23 -

Bait Allah kedua telah berdiri selama 500 tahun sejak zaman Ezra. Lima belas tahun sebelum Yesus Kristus dilahirkan, Herodes membangun kembali dan mempercantik Bait Allah—sedemikian rupa hingga menjadi salah satu bangunan terindah di Yerusalem—bukan untuk menghormati Allah, tetapi untuk memperoleh dukungan dari orang-orang Yahudi. Seperti kebanyakan orang, para murid Tuhan Yesus terpukau oleh kemegahan Bait Allah (meskipun pembangunannya baru selesai tahun 64 AD). Sekalipun demikian, Tuhan Yesus melihat apa yang akan terjadi terhadap bangunan yang megah itu di masa depan. Bait Allah akan dihancurkan sampai tidak ada satu batu pun yang akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Ucapan Tuhan Yesus ini terwujud pada tahun 70 M, saat pasukan Romawi menghancurkan Bait Allah dan kota Yerusalem. Firman Tuhan pasti terjadi! Tuhan Yesus juga menubuatkan apa yang akan terjadi di masa depan sehubungan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali, yaitu mengenai suatu masa yang sulit, khususnya bagi para pengikut-Nya. Banyak orang yang mengaku sebagai Kristus dan menyesatkan banyak orang. Akan ada banyak peperangan dan berita tentang peperangan, situasi yang sangat meresahkan. Beberapa orang akan diserahkan kepada majelis agama untuk dianiaya. Sesama anggota keluarga sendiri akan saling menyerahkan, tidak tahu lagi siapa yang dapat dipercaya. Sungguh, suatu masa yang sangat sulit! Nubuatan dalam Perjanjian Lama banyak yang sudah tergenapi, khususnya sehubungan dengan kedatangan Tuhan Yesus yang pertama kali. Akan tetapi, hal-hal yang disampaikan Tuhan Yesus banyak yang belum terjadi, hanya beberapa hal yang sudah terjadi. Akan tetapi, kita bisa meyakini bahwa nubuatan Tuhan Yesus pasti akan terjadi. Rasul Petrus mengatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Petrus 3:9). Tuhan tidak segera menjatuhkan hukuman karena Ia bermaksud memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, berbalik dan bertobatlah! Jangan sampai kita tiba pada masa yang penuh siksaan, yaitu masa pada saat segala yang hidup tidak dapat bertahan! [MN]

Wednesday, 01 April 2020

Pameran Kesalehan

- Markus 12:35-44 -

Apa dampaknya jika seseorang tahu bahwa ia sedang diperhatikan saat ia melakukan sesuatu (apa pun)? Apakah ia akan menghentikan perbuatannya atau justru malah semakin menjadi-jadi? Respons orang itu tergantung dari apakah dia suka menjadi pusat perhatian atau tidak. Para ahli Taurat suka memamerkan diri mereka di hadapan orang banyak. Nampaknya, mereka memiliki pakaian kebesaran sehingga orang banyak langsung mengenali siapa mereka. Selain menonjolkan pakaian, para ahli Taurat juga dikenal suka menerima penghormatan di pasar serta terbiasa duduk di tempat yang dikhususkan, baik di rumah ibadat maupun di dalam perjamuan, seakan-akan status mereka lebih tinggi jika dibandingkan dengan rakyat jelata. Sayangnya, kelakuan mereka tidak sebanding dengan status mereka. Tuhan Yesus tahu betapa bobroknya hati mereka. Mereka suka menelan rumah janda-janda dan memanipulasi doa—sesuatu yang bersifat rohani, tetapi dipakai untuk kepentingan pribadi (menonjolkan diri). Sikap para ahli Taurat itu berbanding terbalik dengan sikap seo-rang janda yang (sungguh-sungguh) miskin. Bayangkan: sebelum dirinya, banyak orang kaya dengan angkuh sengaja melemparkan sejumlah be-sar uang ke dalam kotak persembahan, sehingga bunyinya terdengar oleh banyak orang, termasuk si janda miskin. Kira-kira, apa yang ada di benak janda itu saat memberikan semua yang ia miliki kepada Tuhan? Dia pasti merasa minder karena yang dia berikan tidak berarti diban-dingkan pemberian si orang kaya. Namun, niat janda itu sudah bulat. Seandainya Anda tahu bahwa ada banyak pasang mata sedang mengawasi Anda—apalagi jika yang mengawasi Anda adalah orang-orang penting—saat Anda memberi persembahan, apakah Anda akan menambah jumlah persembahan Anda? Apakah Anda mulai memba-yangkan bahwa orang-orang yang mengawasi Anda akan terpukau oleh jumlah uang yang besar yang Anda persembahkan? Sadarilah bahwa orang-orang yang memiliki status “tinggi” dalam gereja (misalnya rohaniwan, majelis, pengurus, jemaat senior) juga bisa tergoda untuk menonjolkan kerohanian melalui jumlah persembahan atau berbagai pelayanan yang mereka lakukan. Apakah Anda pernah tergoda untuk memamerkan kesalehan pribadi atau Anda hanya mengharapkan perkenan Tuhan atas apa yang Anda lakukan dan Anda selalu berusaha agar Allah saja yang dihormati? [MN]

Tuesday, 31 March 2020

Teologi Yang Benar: Perlu dan Lakukan

- Markus 12:18-34 -

Orang Saduki adalah kelompok orang yang tidak mengakui ajaran tentang kebangkitan setelah kematian (Kisah Para Rasul 23:8). Sebenarnya, keyakinan tentang kebangkitan telah ada dalam Perjanjian Lama (Ayub 19:25-27; Yesaya 26:19; Mazmur 16:10; 71:19-20; Yehezkiel 37; Daniel 12:2; Hosea 6:1-2). Namun, karena mereka hanya mengakui kewibawaan lima Taurat Musa (Pentateukh), teologi mereka salah (tidak lengkap), sehingga kesimpulan mereka salah. Bertolak dari pertanyaan tentang tanggung jawab menghasilkan keturunan bagi saudara laki-laki yang telah mati, beberapa orang Saduki mempertanyakan siapa yang akan menjadi suami bagi istri yang telah dinikahi oleh tujuh orang bersaudara itu pada hari kebangkitan. Niat orang Saduki bukanlah mencari kebenaran, tetapi mencari kesalahan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus tidak mungkin membenarkan sesuatu yang salah, sehingga Ia dengan tegas mengatakan sampai dua kali bahwa mereka sesat (12:24, 27). Dia menegaskan adanya kebangkitan orang mati. Setelah orang-orang mati dibangkitkan, mereka tidak lagi kawin atau dikawinkan, tetapi hidup seperti malaikat di sorga. Karena tidak ada lagi hubungan perkawinan di sorga, pertanyaan orang Saduki itu menjadi tidak relevan. Perhatikan bahwa ahli Taurat berbeda dengan orang Saduki. Walaupun motivasi si ahli Taurat tidak tulus (Matius 22:35), teologinya sepaham dengan Tuhan Yesus. Ia setuju bahwa hukum yang terutama ialah mengasihi Tuhan, Allah, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan; dan hukum yang kedua ialah mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Oleh karena itu, Tuhan Yesus menyimpulkan, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.” (12:29-34). Perkataan Tuhan Yesus ini seperti mau mengatakan, “Jangan cuma tahu, praktikkan juga!” Dosen saya—almarhum Pdt. Hidalgo Ban Garcia—pernah berkata, “Jangan pernah jadi orang yang malas secara intelektual.” Banyak orang enggan membaca buku teologi yang mereka anggap sebagai bacaan pendeta atau hamba Tuhan saja, padahal setiap orang bertanggung jawab untuk senantiasa belajar seumur hidup. Belajar teologi akan membuat kita meyakini bahwa ada Allah yang mengasihi kita dan menjadi dasar bagi kita untuk mengasihi sesama. Setelah tahu, pengetahuan itu harus kita praktikkan! [MN]

Monday, 30 March 2020

 1 2 3 Next  Last

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?