Article

Kristus Anak Domba

Saturday, 02 May 2020

Wahyu 5:1-14

Rasul Yohanes di dalam kitab Wahyu 5:1-14 menceritakan penglihatan yang dialaminya. Ia melihat tahta Allah yang memegang sebuah gulungan kitab, di mana ada tulisan di luar dan juga di bagian dalamnya. Gulungan kitab itu dimeteraikan dengan 7 meterai (yang masing-masing meterai terdiri dari penghakiman Tuhan - penjelasan tentang 7 meterai ini ada di pasal 6 dan pasal 8 ayat 2). Dalam penglihatannya, Rasul Yohanes mendengar salah seorang malaikat berkata: ‘siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?’

Tentu pernyataan malaikat tersebut membuat Rasul Yohanes merasakan keheranan yang sangat luar biasa. Ia menyadari berita yang ada dalam gulungan kitab itu adalah berita yang sangat bernilai dan penting, namun tidak ada satu orangpun yang dapat membuka gulungan kitab itu. Ketika tidak ada satupun yang mampu membukanya, maka seperti yang disebutkan pada ayat 4: ‘menangislah aku dengan amat sedih’. Mengapa persoalan gulungan kitab yang tidak bisa dibuka saja, membuat Rasul Yohanes meratap, mengalami kesedihan yang teramat dalam?

Seperti kita ketahui, kitab ini diberi segel atau meterai sebanyak tujuh buah dan setiap meterai yang dibuka, keluarlah gelombang dahsyat tentang murka Allah atas para pelaku kejahatan. Rasul Yohanes menangis karena apabila tidak ditemukan seorang yang layak untuk membuka kitab itu, maka nasib orang beriman akan kelam, sebab isi meterai itu adalah rencana penyelamatan Allah (ayat 10).

Pada ayat 5 disebutkan: Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.” Tua-tua adalah gambaran dari umat tebusan Allah. Mereka adalah orang-orang yang pernah menikmati anugerah dari penebusan oleh darah Kristus. Rasul Yohanes diyakinkan bahwa yang dapat membuka gulungan kitab itu adalah seorang yang disebut singa dari Yehuda, yaitu tunas Daud. Penegasan tentang “Singa dari suku Yehuda! dan Tunas Daud” mengacu kepada satu pribadi yaitu Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Kitab Wahyu 22 ayat 6 dikatakan: “Aku, Yesus, telah mengutus malaikatKu untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud…” (Wahyu 22:16).

Singa melambangkan kekuatan sekaligus kemuliaan. Gambaran yang paling umum, singa disebut sebagai raja hutan atau rajanya binatang buas. Oleh sebab itu singa sering dipakai menjadi simbol dari berbagai kebudayaan dan pemerintahah di seluruh dunia. Sebagaimana singa diidentikkan dengan kekuatan atau kekuasaan, demikianlah Tuhan Yesus sebagai singa dari Yehuda memiliki kekuatan dan kekuasaan atas bumi dan surga, bukan sebagai simbol atau lambang saja, namun dalam arti yang sebenarnya. Seperti diungkapkan oleh Rasul Paulus ketika ia menjelaskan tentang Kristus yang telah menang atas kuasa maut (I Korintus 15:54).

Setelah itu, Rasul Yohanes melihat di tengah-tengah tahta dan keempat makhluk dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh. Ketika hari paskah tiba, orang-orang Yahudi akan menyembelih seekor anak domba yang terbaik. Ada sebuah artikel menyebutkan anak domba yang akan akan disembelih itu biasaya akan dikurung selama beberapa hari dan tinggal ditengah-tengah keluarga, hingga anak-anak mengasihinya dan melihatnya sebagai anggota keluarga. Domba kesayangan itu akhirnya disembelih untuk korban persembahan di atas altar. Domba kesayangan itu mengacu kepada diri Tuhan Yesus, yang menderita di kayu salib sebagai korban.

Pertanyaannya, mengapa perlu pengorbanan Kristus?. Dalam tradisi Yahudi ada sebuah upacara yang disebut hari raya pendamaian. Dalam bahasa asli Alkitab, hari pendamaian berarti hari yang menutupi. Pada hari raya tersebut, darah korban menutupi dosa umat Israel. Segala dosa umat Israel dibayar secara sementara dengan darah binatang yang dikorbankan. Disebut "sementara", karena upacara pengorbanan tersebut harus diulang setiap tahun. Harus ada korban untuk pengampunan dosa. Ada domba yang harus dikorbankan untuk menghapus dosa, dan ada juga domba yang harus dilepaskan sebagai lambang pengampunan Tuhan atas dosa orang Israel, sehingga mereka dibenarkan oleh Allah.

Penglihatan yang diberikan oleh Tuhan kepada Rasul Yohanes merupakan sebuah makna yang penting tentang kedatangan Tuhan Yesus ke dalam dunia, apa yang dulu Rasul Yohanes lakukan dalam upacara agama Yahudi, sekarang terjawab sudah. Apa yang dahulu menjadi bayang-bayang dan menjadi samar-samar tentang makna upacaya korban, sekarang dengan kehadiran Kristus ke dalam dunia dan melalui kematiannya di kayu salib, membuat ia mengerti, bahwa Tuhan Yesus itulah sumber keselamatan dan melalui kematian Kristus, dosa seluruh umat manusia telah ditanggung-Nya. Sehingga dalam tulisan kitab Injilnya ia mengutip tentang perkataan Yohanes Pembaptis yang memberikan kesaksian tentang Tuhan Yesus: ‘Tuhan Yesus sebagai anak domba Allah yang menghapus dosa dunia’ (Yohanes 1:29). Itulah sebabnya, kita tidak lagi memberikan korban, sebab korban itu telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, seperti yang disebutkan dalam Ibrani 10:10; persembahan tubuh Yesus Kristus satu kali dan untuk selama-lamanya.

Sesungguhnya, kitab Wahyu pasal 5 ini memuat kesaksian tentang siapa Kristus. Apa yang dulu tertutup, sekarang telah terbuka dan nampak jelas. Apa yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama sekarang telah digenapai di dalam Kristus. Lambang-lambang upacara ibadah orang Yahudi, khususnya dalam persembahan korban, semuanya bermuara kepada satu pribadi, yaitu kepada Tuhan Yesus. Kesaksian ini hendaknya juga akan semakin memperkuat keyakinan iman kita akan Tuhan Yesus. Kedatangan-Nya memperdamaikan kita dengan Allah dan pengorbanan-Nya menghapuskan hukuman dosa kita.

Meskipun kehidupan sebagai orang Kristen tidak lepas dari berbagai macam persoalan, tantangan dan kesulitan, seperti yang juga terjadi dalam kehidupan penulis surat wahyu ini. Namun, ia tidak melihat kepada kesulitan dan beratnya tantangan yang dihadapi, melainkan kepada Kristus, yang telah telah menang mengalahkan kuasa maut, yang digambarkan seperti singa dari Yehuda. Rasul Yohanes, di tengah-tengah penderitaanpun, ia tidak menyangkali imannya, sebab ia melihat kepada anugerah Kristus, yang telah merelakan diri-Nya menjadi korban untuk menebus dosa manusia. Tuhan memberkati.

Disusun Oleh: Pdt. Herman Suratman

Kami Peduli

Masukkan Alamat E-mail Anda untuk berlangganan dengan website Kami.

Apakah anda anggota jemaat GKY Mangga Besar?